Semazen

Monday, January 7, 2013

# 20. Road to Istanbul Mencari Sufi


“Lain kali kalau bis mau berangkat, ke internet lagi saja, biar ketinggalan lagi.”
-Laki-laki terminal-

            Tanggal 23 Desember aku memutuskan untuk ke Istanbul sendirian dan tidak tahu akan menginap dimana, pokoknya berangkat dulu, urusan menginap dipikirkan belakangan. Nekad.
Sehari sebelumnya aku sudah browsing motel murah di Istanbul yang tidak jauh dari Hagia Sophia dan Blue Mosque. Tapi semurah-murahnya motel di Istanbul tetap saja mahal untuk ukuranku, sehingga aku perlu berdo’a semoga ada keajaiban yang membuatku tak perlu membayar mahal. Aku telah mengontak Arifan, malaikat kedua yang kutemui di Bandara Istanbul untuk menjemputku di terminal bis dan kemudian kami akan bersama-sama mencari penginapan murah. Namun semuanya berubah karena campur tangan Malaikat  Sufi Istanbul.

Kualat

            Hari itu aku merasa kualat pada dua bis yang akan kutumpangi. Sesampainya di terminal aku langsung menuju loket bis Konzet untuk membeli tiket ke Istanbul tanpa memberi kesempatan pada calo-calo terminal yang coba mendekati. Sayang bis berjudul Konzet yang sering kutumpangi baru akan berangkat jam 12.30 padahal saat itu baru jam 10.30. Aku bertanya apakah ada bis lain yang berangkat lebih awal. Mereka bilang tidak ada. Aku tidak percaya lalu pergi ke loket informasi. Lumayan petugasnya sedikit berbahasa Inggris, tapi tetap saja Ia tidak mengerti kalo aku mencari bis yang berangkat lebih awal sehingga urusanku mencari rumit dengan orang-orang di terminal bis dan menjadi pusat perhatian. Seorang laki-laki mendekatiku. Dengan bahasa isyarat Ia memintaku mengikutinya. Aku pikir Ia mengerti apa yang kumaksud. ternyata tidak. Ia membawaku ke loket bis lain tidak jauh dari Konzet. Bis Lider. Di loket bis kedua ini ada petugasnya yang fasih berbahasa Inggris, wajahnya mirip Christoper Reeve, salah satu pemeran superman tahun 80-an. Ia menawariku tempat duduk paling depan. Tapi setelah kutanya kapan bisnya berangkat ia bilang 12.30. What?! Sama aja. Dengan alasan tidak ada wireless akhirnya aku memilih kembali ke Konzet, padahal sebenarnya aku tidak butuh wireless. Entah karena mereka sudah jengah liat aku yang bawel mereka bilang sudah tidak ada lagi tempat duduk. Huh! Karena sudah malas berbicara dengan orang-orang terminal akhirnya dengan sedikit malu aku kembali ke Lider. Tempat duduk nomor satu yang tadi ditawarkan sudah tidak ada lagi. Mereka memberiku tiket ke Istanbul dan menyuruhku menunggu di peron 26.
            Karena masih ada waktu sekitar satu jam aku memilih untuk ke warnet di terminal yang cuma beberapa meter dari peron untuk mengecek email dan membalas pesan di facebook. Sepuluh menit sebelum jam keberangkatan aku keluar warnet dan langsung menuju bis Lider yang saat itu sudah parkir didepan peron 26. Aku bertanya pada orang-orang dipintu bis apakah bis ini yang akan ke Istanbul. Ia bilang bis ini ke Adana, yang ke Istanbul sudah berangkat sepuluh menit yang lalu.

WHAAAAAT!!!!!!!!!!. Untuk beberapa saat mukaku pastilah tidak karuan. Bapak itu menunjukkan jam di Hp-nya 12.35. Aku juga menunjukkan jam di HPku 12.25. Melihat wajahku yang tidak jelas bentuknya karena ketinggalan bis seorang bapak-bapak tua bertanya dengan bahasa Turki dan bahasa Isyarat, “kamu kemana saja sehingga bisa ketinggalan bis?” Aku bilang, “Internet.” Ia tertawa lalu berkata yang menurutku ia bilang, “Lain kali kalau bis mau berangkat, ke internet lagi saja biar ketinggalan lagi,” katanya sambil tertawa sehingga aku ikut tertawa. “Hahaha…ya ya, saya tahu.” Ia lalu membawaku ke loket Lider dan menjelaskan semuanya. Singkat cerita akhirnya aku naik bis Lider berikutnya yang berangkat jam 15.30. Maka aku menunggu tiga jam lagi tanpa berbuat apa-apa dan kedinginan walau sudah berjaket tebal. Aku sudah malas berurusan dengan orang terminal dan mencari orang Turki yang berbahasa Inggris. Hasrat hati ingin berangkat dengan bis paling awal malah dapat paling akhir.

Penumpang Istimewa

            Tapi kesialan itu kemudian tergantikan dengan hal lain yang cukup menghibur. Didalam bis aku merasa seperti penumpang istimewa karena menjadi satu-satunya penumpang asing. Kondektur bis tampaknya penasaran oleh tampang non-Turkiku. Ia terlalu sering bolak-balik ke kursiku untuk memberi snack, menawari minuman, mengecek minumanku, sudah habis atau belum, atau barangkali mau tambah, dan menawari koran untuk dibaca. Aku sering menolak ketika ia datang menyodorkan minuman. Namun karena merasa tak enak akhirnya aku meminta  su alias air putih ketika Ia datang lagi. Tidak berapa lama kemudian Ia datang lagi membawa segelas plastic coke padahal aku tidak minta dan langsung kuminum sedikit untuk menghargainya. Selang lima belas menit ia datang lagi menyodorkan koran yang setelah kuamati ternyata berbahasa Turki. “Turkce” kataku. Ia mengangguk. Aku tertawa dan memberi isyarat kalau aku tidak bisa Turkce alias bahasa Turki jadi tidak mungkin bisa membacanya, tapi terima kasih atas kebaikannya. Ia tersenyum dan bertanya sesuatu dalam bahasa Turki, tapi aku tidak mengerti. Komunikasi pun tidak lancar sehingga Ia pun pergi. Setelah coke yang ia berikan habis tidak lama kemudian aku mulai merasa ingin pipis padahal bis baru akan berhenti di restoran sekitar tiga jam lagi. Ketika ia lewat kusodorkan gelas kosong itu padanya. Tidak berapa lama kemudian Ia datang dengan segelas coke lagi. Dengan wajah terperangah aku menerima gelas plastik berisi minuman bersoda itu lalu tertawa. “Lu nyuruh gue kembung ya,” kataku dalam hati. Ia ikut tertawa. Sejam sebelum tiba ia sempat bertanya aku sudah menikah atau belum dengan menunjukkan cincin logam di jari manisnya. Aku tertawa dan menggeleng. Entah apa yang Ia pikirkan kemudian aku tak  peduli yang penting dia sudah menetralkan perasaan agak sial hari ini. Thanks, God!

Sunday, January 6, 2013

#19. Seribu Wajah Turkish



            Aku tak tahan merasakan duka kematian nenekku sehingga aku memilih mencari hiburan. Walaupun akalku sudah menerima kematian sebagai kewajaran tapi rasa duka itu tetap saja ada. Begitu tidak nyaman dihati sehingga aku memilih untuk mencari pengalih.
            Aku keluar asrama menuju Kızılay, ke lokanta tempat biasa aku makan siang, berniat mencari hiburan. Siapa tahu ada hal-hal lucu lain di Turki yang bisa kutertawai sehingga aku lupa pada dukaku. Mas Nasir sudah menungguku disana.
            Sejak pagi ada suara gemuruh di luar kampus. Tapi dukaku membuatku tak peduli pada suara itu. Akhirnya aku keluar kamar dengan jaket merah andalan, syal dan kupluk penghalau dingin dikepala. Seperti biasa aku hanya bisa menyapa, “günaydın” selamat pagi, pada penjaga asrama Milli Pyanggo, padahal sudah tak pantas lagi disebut pagi. Mereka membalas dengan senyuman. Didepan pintu kupasang kedua sarung tanganku lalu melangkah sambil memainkan embun dari nafasku. Dingin sekali hari itu.
            Hampir semua permukaan taman tertutup oleh salju. Begitu pula pohon-pohon cemara. Daunnya berubah menjadi putih diganduli salju. Tinggal diberi lampu hias maka cemara itu akan menjadi pohon natal yang cantik, pikirku. Aku berjalan menuruni kampus dengan kaki mencengkram tanah agar tak jatuh oleh jalan licin karena salju.
            Dipintu gerbang kampus, puluhan tentara berseragam hitam berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Setiap hari selalu ada tentara disitu tapi kali ini lebih banyak. Wajah lain dan penampilan mencolok membuat mereka menolehku. “Yes, I am Indonesian” jawabku dalam hati, menjawab pertanyaan tak terlontar yang diwakili tatapan mereka sambil berjalan dengan cueknya.
            Tiba dijalan raya depan kampus Universitas Ankara, ratusan bahkan ribuan orang berjalan dengan tertib sambil meneriakkan sesuatu. Aku diam sejenak dan celingak-celinguk memperhatikan sekeliling. Mencoba memahami apa yang terjadi. Hampir di semua sisi jalan puluhan tentara berbaris dengan waspada. Ada demonstrasi besar-besaran rupanya.
            Dibawah gerimis rapat ribuan orang Turki tumpah ruah dari berbagai arah jalan menuju pertemuan jalan-jalan besar. Dengan sepatu boot, rompi putih bertuliskan sesuatu yang tak kumengerti, jas hujan transparan aneka warna sesuai asal mereka, dan sebuah papan demo, mereka bergerak ke satu titik di ujung jalan sambil meneriakkan sesuatu yang juga tak kumengerti. Aku menjadi manusia buta huruf kala itu. Aku berniat menuju stasiun metro agar bisa secepatnya sampai lokanta. Mas Nasir pasti sudah menungguku disana. Namun sisi jalan dijaga oleh tentara sehingga mau tak mau aku harus berjalan ditengah jalan bersama para demonstran. Dengan jaket merah ala Santa Clause, tanpa jas hujan berwarna, tanpa atribut demo, dan tubuh mungil berwajah Asia, aku menjadi agak mencolok. Dengan mudah mereka bisa mengindentifikasi bahwa aku bukan bagian dari mereka. Sesekali para demonstran yang berjalan disebelahku menatapku dengan tanda tanya yang dengan cepat kuberi isyarat bahwa aku bukan makhluk berbahaya. Hanya pelancong bergembira yang sedang menikmati demonstrasi ala Turki. Aku berjalan bersama mereka sambil berpikir proses pengorganisasian demo ini sehingga bisa berjalan dengan tertib dan rapi. Feelingku mengatakan bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan sehingga dengan santai aku berjalan bersama mereka sambil sibuk memotret. Kalaupun terjadi sesuatu padaku pasti akan jadi berita besar di Indonesia, pikirku. Headline news mungkin akan berbunyi, “Seorang demonstran Indonesia cidera di Turki.” Aku tak berani membayangkan hal lain selain cidera ringan saja.
            Stasium metro ternyata ditutup dan dijaga tentara. Sehingga aku harus kembali ke jalan dan bergabung kembali dengan para demonstran. Sambil jalan kumanfaatkan hari itu untuk memotret aneka wajah orang-orang Turki. Setidaknya aku tidak perlu mendatangi seluruh daratan Turki untuk melihat karakter wajah-wajah mereka. Hari ini mereka tumpah ruah dihadapanku. Siap kupotret.
            Letaknya yang dipersimpangan antara benua Asia dan Eropa membuat wajah-wajah di Turki sangat variatif. Banyak pencampuran gen disitu sehingga menghasilkan fenotip yang beragam.  Maka menjadi agak sulit untuk menentukan karakter yang menonjol dari wajah orang Turki. Sebagian ada yang cenderung ke timur tengah sebagian lain cenderung ke Eropa dan sebagian lain diantara keduanya dengan warna mata dan rambut yang berwarna warni. Aku menemukan banyak wajah telenovela diantara para demonstran.
            Dua orang laki-laki demonstran berwajah mirip dengan sangat antusias menerima permintaanku untuk kupotret. Mereka pun lalu sibuk mengatur gaya. Dengan salah satu tangan memegang papan demo dan satu tangan yang lain mengacungkan dua jarinya ke kamera, serta topi sedikit miring, mereka pun siap beraksi. Jadinya gaya rapper tanggung yang ceria.
            Dipertemuan lima jalan sebuah monitor sangat besar sudah menanti. Beberapa  jalinan ratusan balon berwarna merah, biru dan putih mebentang didepannya dengan sebuah balon sangat besar ditengahnya. Beberapa sound system ukuran besar sudah teronggok disitu. Monitor besar itu memperlihatkan para demonstran. Aku mencari gambarku dimonitor siapa tahu ikut disuting. Tapi sia-sia. Suara musik yang mengalun keras membuat para demonstran bergoyang sambil meneriakkan protesnya yang tidak aku mengerti. Demo ini lebih mirip hajatan. Aku pun ikut larut bersama mereka dengan tujuan yang berbeda, melupakan duka kehilangan.
            Tiba-tiba tepuk tangan sangat meriah diantara dentuman musik yang membahana. Rupanya beberapa orang telah berhasil menaiki sebuah gedung tinggi dan membentangkan spanduk protes diatas balkon. Semua mata tertuju keatas balkon sambil bersorak-sorai penuh kemenangan. Aku sibuk mengabadikan momen-momen itu dalam kameraku sambil ikut bersorak-sorai.
            Para demonstran itu adalah para apoteker, mahasiswa farmasi, teknisi farmasi, pasien, dan orang biasa yang turun ke jalan untuk memerotes kebijakan pemerintah Turki tentang farmasi yang dinilai merugikan para apoteker dan pasien. Begitu keterangan beberapa demonstran yang berhasil kuwawancarai. 

Tuesday, January 1, 2013

#18. Thanatologi: Ilmu Tentang Mati

“Manusia Mati Menurut Cara Hidupnya”
-Maulana Rumi-

Makam Rumi di Konya
            Dahsyat sekali, Maulana Jalaluddin Rumi berhasil mengubah cara pandangku tentang kematian. Ia dengan indah menyebut saat kematian sebagai malam pengantin.  Sebuah penyatuan yang membahagiakan, bukan berpisahan yang menyedihkan. Akal modernku sulit memahami ini.  Tapi aku berusaha untuk memahaminya.
            Kemarin sore aku pulang ke Asrama lebih awal dari biasanya. Ada yang aneh sore itu. Biasanya setiap pulang menjelajah Ankara aku punya energi besar untuk menulis. Tapi kali ini tidak. Ada perasaan tidak nyaman di hati yang entah dari mana asalnya. Ada rasa sedih tanpa sebab di kedalaman sana yang membuatku tidak bisa menikmati apapun yang kulihat, kudengar dan kulakukan. Aku berpikir mungkin karena hajat utamaku ke Turki sudah terpenuhi dan sebagian besar Ankara sudah dijelajahi sehingga kebosanan mulai menerpa. Kalau begitu mungkin ini saatnya aku harus ke Istanbul untuk mengalami hal-hal baru dan memenuhi hajat kedua, menemui Sufi, begitu pikirku.
            Belum ada kabar apapun dari orang-orang yang sudah kuhubungi di Istanbul. Thomas, penyair Australia yang kutemui di makam Maulana belum juga menghubungi aku atau membalas emailku. Begitu pula Esin Celebi Bairu, wakil presiden International Mevlana Center, dan Cemalnur, Sufi perempuan yang direkomendasikan Can Guldere, malaikat dalam bis yang kutemui sepulang dari Konya. Walaupun belum ada kabar apapun dari mereka aku bertekad akan ke Istanbul segera.  Apa yang bisa kuperbuat di Istanbul bisa kupikirkan nanti setelah tiba di Istanbul, begitu pikirku.
            Untuk melupakan perasaan gelisah aku memilih tidur. Biarlah hari ini aku tak menulis karena memang tak ada kejadian menarik untuk ditulis. Tidur adalah salah satu terapiku yang cukup manjur untuk melupakan perasaan-perasaan tidak menyenangkan. Setelah bangun biasanya persepsiku terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman di hati akan berubah sehingga perasaanku ikut berubah. Malam pun berlalu menelan kesedihan anehku.
            Esok pagi ketika mataku terbuka perasaan itu masih ada sehingga aku agak meragukan kemanjuran terapi tidurku. Diatas toilet aku berusaha mencari disela-sela pikiranku, pikiran yang mana yang menimbulkan rasa aneh ini. Tapi percuma aku tak menemukannya. Aku tidak tahu apakah rasa sedih itu berasal dari dalam diriku atau dari luar. Rasa itu benar-benar tidak menyenangkan sehingga aku perlu mencari pengalih. Kuyalakan TV mencari channel yang menghibur walaupun tak mengerti bahasanya. Percuma, perasaan itu masih ada.
            Setelah menyantap roti dan segelas susu aku iseng menelpon kerumah di Indonesia. Seperti biasa tidak pernah tersambung. Lalu kukirim SMS mananyakan kabar semua keluarga. Aku tak berharap terkirim karena biasanya tidak pernah terkirim. Tapi kali ini terkirim. Lima menit kemudian ada jawaban yang menjawab kegelisahanku tadi malam. Nenekku, yang merawatku hingga SD meninggal tadi malam jam sembilan atau jam lima sore waktu Turki. Tidak lama kemudian adikku menelpon dan marah-marah karena sejak tadi malam aku tidak bisa dihubungi. Katanya semua orang berpikir tentang aku yang harus segera diberitahu tentang kepergian nenek. Karena  tak pernah bisa terhubung mereka mulai berpikir yang aneh-aneh. Jangan-jangan terjadi sesuatu padaku. Barangkali inilah yang disebut firasat. 

           Ini kematian kedua dalam lingkaran orang-orang yang dekat denganku sehingga aku sudah sedikit terlatih untuk menghadapi hantaman dukanya. Kematian sepupu sekaligus adik angkatku sudah memberiku pengalaman kehilangan. Walaupun aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sebagai kewajaran tapi tetap saja aku merasa berduka. Setidaknya butuh waktu seminggu untuk benar-benar bisa menerima kepergiannya.  Dan untuk sadar bahwa kematian itu ada dan dekat. Sepanjang kematian tak terjadi pada orang-orang terdekat kita mungkin kita akan selalu menganggap kematian sesuatu yang jauh yang terjadi pada orang lain. 
            Sejak kecil aku terlalu sadar pada kematian sehingga sepanjang hidup selalu dihantui oleh rasa takut pada kematian. Aku selalu menghindar jika ada iring-iringan mayat. Aku bersembunyi agar jangan sampai melihat kerandanya karena itu akan menghantuiku semalaman dan tidak bisa tidur. Karena takut melihat mayat akupun tak pernah mau diajak melayat. Takut dihantui. Ketika seorang sahabatku meninggal akupun tak berani datang. Aku takut melihat wajahnya.  Karena bagiku wajah tanpa kehidupan benar-benar menakutkan.
            Pokonya kematian benar-benar menakutkan. Sehingga kemanapun aku pergi terutama ketika berada di atas kendaraan bayang-bayang kematian selalu mengikuti. Takut kecelakaan. Pemandangan pekuburan disepanjang jalan membuatku selalu ketakutan. Aku tak siap berada diantara orang-orang yang ditanam itu. Senja pun menjadi musuhku. Karena ia mengingatkanku pada ketakutan pada kematian. Ketakutan pada keterpisahan. Aku berusaha menghadapinya, tapi tak selalu bisa.
            Akhirnya daripada aku terus menerus dihantui oleh kematian aku memberanikan diri mempelajarinya. Syukurlah, karena tidak sulit, mestakung, semesta mendukung. Setelah mempelajari teori-teorinya aku bertemu dengan pelaku dan petualang kematian. Seorang pelancong akhirat yang tak keberatan menceritakan persiapan dan proses kematiannya sendiri. Maka ketika seorang pelancong akhirat yang lain mengatakan  bahwa kematian bukan misteri, aku dengan segera menyetujuinya. Kematian bukan misteri, manusialah yang misteri.

Pelajaran Pertama

            Pelajaran pertama tentang kematian kudapat dari Morrie Schwartz, seorang professor Yahudi  yang menjalani proses kematiannya dengan sadar dan penuh suka cita. Ia begitu menginspirasi dan mengurangi ketakutanku pada kematian. Keingintahuanku pada kematian seolah mendapat pembenaran. Ia bilang, “begitu kita ingin tahu tentang mati sama artinya kita ingin tahu tentang hidup.” Kupikir Ia sangat benar karena kematian dan kehidupan ibarat dua sisi mata uang atau siang dan malam. Aku merasa pencarianku mendapat dukungan. Ketertarikanku pada kematianpun makin bertambah. Namun aku tak tertarik pada penjelasan para penghafal kitab suci. Aku lebih suka mendengarkankan orang-orang yang mengalami kitab suci.

Pelajaran kedua: Respon orang ketika akan mati

            Rupanya aku tak sendirian. Banyak juga orang yang tertarik pada kematian  sehingga tidak sulit mendapatkan literatur tentang kematian. Bahkan ada studi khusus yang mempelajari tentang kematian. Studi ini  disebut thanatologi. Salah seorang pakar kematian atau thanatologist yang diakui secara akademik bernama Elisabeth Kubler Ross yang melihat kematian dari perspektif psikososial. Si Ibu Ross ini meneliti tentang respon orang-orang yang menjelang kematian. Dari situ kemudian Ia menyimpulkan bahwa ada lima tahap reaksi orang terutama pasien ketika diberi tahu kalau hidupnya tidak lama lagi. Pertama, mereka akan melakukan penyangkalan dengan tidak mempercayai diagnosa dokter. Pasti dokternya salah diagnosa. Namun lama-kelamaan setelah tak ada lagi alasan untuk tidak percaya pada diagnosa dokter mereka kemudian mulai mengasingkan diri dan enggan bertemu dengan orang-orang. Mereka butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit ini.
            Respon kedua, marah, gusar, cemburu dan benci. Marah karena kenapa mereka yang harus mengalami penyakit yang akan merenggut nyawa mereka bukan orang lain saja. Sehingga mereka pun mulai cemburu pada orang-orang yang sehat. Ketiga, melakukan penawaran pada yang kuasa. Setelah tak mungkin dapat mengelak dari kenyataan bahwa penyakit itu benar-benar terjadi dan menggerogoti waktu hidup yang mereka miliki, mereka kemudian melakukan penawaran pada Tuhan atau apapun yang dianggap Maha Kuasa. Mereka menawarkan seandainya diberi penundaan kematian mereka akan melakukan kebaikan atau sesuatu yang berguna. Keempat, rasa kehilangan. Setelah kematian terasa cukup dekat dan tubuh kian lemah, sikap marah, tabah, atau apatis akan segera tergantikan oleh rasa kehilangan dalam berbagai bentuk seperti keterkejutan, kecemasan, dan depresi mendalam. Kelima, menerima. Ketika si sakit mempunyai cukup waktu dan dibantu untuk melewati tahap-tahap sebelumnya maka Ia akan sampai pada tahap dimana Ia tak lagi depresi, takut atau marah pada nasibnya. Si pasien akan merasa lebih siap untuk menghadapi kematiannya sendiri. Inilah kelima tahap yang umumnya dihadapi oleh orang yang divonis mati oleh dokter. Thanatologi membantu mempersiapkan orang yang akan mati dan juga keluarganya untuk menghadapi kematian dengan wajar. Hasil penelitian ini kemudian mengilhami kegiatan pendampingan kematian.

Pelajaran ketiga: Tahap-tahap kematian

            Seorang mistikus Hindu, Sri Eknath Easwaran, membuka penjelasannya tentang kematian dengan sebuah teka-teki menarik yang diajukan pada lima bersaudara Kurawa. Teka-teki itu berbunyi, “Apakah yang paling mengherankan dalam hidup ini?” Keempat saudara Kurawa mati tanpa tahu jawabannya. Hanya pangeran tertua yang mampu menjawabnya. Ia bilang, “meskipun setiap hari melihat orang lain mati, ada banyak orang yang tak pernah berpikir bahwa dirinya sendiri akan mati.” Ini benar sekali, tapi aku merasa tak termasuk di dalamnya.
            Selanjutnya Easwaran menjelaskan, pada saat kematian jiwa tidak meninggalkan tubuh dengan mendadak akan tetapi berangsur-angsur melewati selubung-selubung yang melapisi diri sejati manusia. Setahap demi setahap kesadaran akan menarik diri dari panca indra dan masuk ke dalam pikiran. Dari pikiran lalu masuk ke dalam diri sejati. Baru setelah itu diri sejati melepaskan diri. Detailnya begini, mula-mula pintu-pintu panca indra akan tertutup sehingga kesadaran eksternal terhadap tubuh sudah tidak ada lagi. Namun walaupun kesadaran tentang dunia luar sudah tidak ada tapi kesadaran dalam pikiran  masih tertinggal seperti: keinginan-keinginan, penyesalan-penyesalan, konflik, harapan dan ketakutan-ketakutan. Ketika kesadaran tubuh dan pikiran acak ini sudah tak ada lagi maka satu-satunya isi kesadaran orang yang sekarat adalah apa yang paling sering dipikirkannya, paling kuat diperjuangkannya dan apa saja yang paling diinginkannya. Ketika diri sejati mulai meninggalkan tubuh, inti kesadaran itulah yang menemaninya ke kehidupan berikutnya. Inilah alasan mengapa dalam beberapa tradisi dibacakan ayat-ayat suci atau mantra-mantra pada orang yang sekarat. Agar pesan-pesan ayat-ayat suci itu terbawa hingga saat terakhir dan juga agar si sekarat merasa lebih tenang ketika menyongsong ajal.

Pelajaran keempat: Mengapa takut mati?

            Inilah pertanyaan terbesarku. Mengapa aku takut pada kematian? Ibnu Sina, sang ahli kedokteran yang juga filsuf dan mistikus Muslim pernah juga membahas tentang kematian. Menurutnya ada beberapa hal yang membuat manusia takut pada kematian dintaranya: pertama, karena ketidaktahuan tentang kematian. Ini terjadi karena kita tidak banyak membahas tentang kematian sehingga kita punya pandangan-pandangan yang keliru tentang kematian. Aku sepakat sekali. Kedua, karena ketidakpastian setelah kematian. Ini pun karena minimnya info tentang alam dibalik kematian. Ketiga, karena asumsi bahwa hidup berakhir setelah kematian. Ini umumnya diidap oleh orang-orang rasional yang tak percaya alam akhirat. Keempat karena ketakutan pada hukuman di neraka. O la la, tampaknya disinilah ketakutanku berada. Gambaran neraka yang ada dibuku-buku komik yang kubaca ketika kecil dulu begitu dahsyatnya hingga terbawa-bawa sampai sekarang. Beribadahkupun akhirnya lebih banyak dilandasi oleh ketakutan pada neraka itu sendiri dibanding semata-mata untuk mengenal yang diibadahi. Tapi kemudian aku memutuskan untuk tak berada pada level ini. Tidak asik.

Pelajaran kelima: Kematian bukan misteri

            Dari teori kemudian aku melanjutkan ke lapangan. Seorang Sufi perempuan yang sekaligus seorang healer mengajakku menjenguk salah seorang pasiennya yang sedang dirawat di rumah sakit. Menurutnya hidup pasiennya tinggal hitungan jam. “Kalau kamu beruntung kamu akan melihat bagaimana proses ketika nyawa meninggalkan tubuh,” katanya. Tentu saja aku berharap beruntung hari itu walaupun terbersit ketidaknyamanan karena berharap pasiennya benar-benar mati agar bisa kuamati. Aku merasa agak kejam, tapi apa boleh buat aku butuh pengetahuan itu. Ia lalu berbagi ilmunya, “Siapa bilang kematian adalah misteri, manusialah sebenarnya yang misteri.” Dengan cepat aku setuju dengannya. Manusialah yang misteri, bukan kematian, yup!
            Di ruang VIP rumah sakit seorang laki-laki usia enampuluhan tahun terbaring dengan alat bantu nafas di mulutnya. Setiap kali benafas Ia mengeluarkan bunyi dengkuran yang sangat keras. Tampak sekali Ia sangat kesulitan bernafas. Sesekali air mata keluar dari kedua matanya yang kemudian segera diseka oleh salah seorang anaknya. Aku berdiri terpaku didekatnya. Mencoba merasakan apa yang dirasakannya. Aku merasakan nafasnya tinggal sejengkal dan penyesalan yang dalam yang tak bisa Ia ungkapkan. “Kamu merasakannya?” tanya Ibu Sufi. “Iya, nafasnya sudah dileher. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sulit untuk melepaskan nafas,” jawabku. “Jiwanya menjerit-jerit minta tolong,” katanya, “Ia menunggu maaf dari ibunya.”  Aku hanya bergumam, “Ooooh,” dan pikiranku melayang pada orang tuaku. Dosaku setinggi gunung pada mereka sehingga kalau aku mati sebelum mendapat pengampunan maka aku tahu bagaimana akhir hidupku.
            Rupanya hari itu aku belum beruntung. Laki-laki itu meninggal tengah malam beberapa jam setelah aku pulang.  Gagal sudah memperhatikan momen penting yang menjadi batas antara dua dunia, empiris dan non-empiris, yang nyata dan yang ghaib. Tuhan belum mengijinkan aku untuk menyaksikan.

Pelajaran keenam: Rasakan sendiri

.           Satu bulan kemudian aku diberi pengalaman yang lebih dekat. Pengalaman rasa. Laki-laki di rumah sakit itu bukan siapa-siapaku sehingga aku tak terpengaruh oleh kematiannya. Tapi bagaimana jika Ia adalah orang yang dekat denganku? Tuhan rupanya mengajariku perlahan-lahan. Ini pasti karena Dia tahu kalau aku sangat rapuh sehingga kalau diberi pengalaman yang dahsyat pasti kongslet dan tak mampu mengambil hikmahnya. Dia menjadikan adik angkatku sebagai si sekarat. Anehnya, seperti yang dikatakan Ibu Kubler-Ross, walaupun dokter bilang sudah tak ada harapan untuk sembuh karena tumor paru-paru sudah sedemikian menggerogotinya, aku memilih tak mempercayai dokter. Ini juga karena aku tak sepenuhnya percaya pada ilmu pengetahuan modern. Aku bersikukuh bahwa adikku bisa sembuh asal dimotivasi untuk hidup. Ternyata ketika akhirnya Ia benar-benar meninggal aku shock bukan main. Pengetahuanku tentang kematian seolah tak berguna karena aku tetap berduka dan menangis berhari-hari.
            Kematian nenekku ini adalah kematian kedua dalam lingkaran keluargaku. Karena sudah punya pengalaman duka sebelumnya maka aku tak begitu berduka. Aku menganggap nenekku pindah alam, itu saja. Atau mungkin juga karena aku berada jauh dari rumah sehingga tak terekspos oleh suasana duka. Namun ketika sendirian rasa kehilangan itu terasa kembali. 
            Enam bulan setelah dari Turki aku diberi pengalaman yang lebih dekat lagi, kematian sahabat berbagi misteri kehidupan, seperti Rumi dan Syams. Dia kupanggil Umi, seorang Sufi Perempuan yang dikirim kehidupan sebagai jawaban atas doaku ketika meminta ingin bertemu Sufi Perempuan yang tidak selibat,   seperti Rabi'ah Al-Adawiyah. Aku butuh Sufi yang berkecimpung di kehidupan bukan yang memisahkan diri dari hiruk pikuk dunia. Dan Umi-lah jawabannya. Dialah Syams Tabris-ku, guru yang telah membeberkan rahasia Sang Maha Hidup.  Walaupun Ia sering bercerita tentang umurnya yang tidak panjang dan sering menghitung-hitung jarak hari kepergiannya, tetapi aku selalu menyangkalnya dan menanggapinya dengan tidak serius. Umi pernah bilang bahwa permintaanya untuk mati pernah ditolak oleh Tuhan karena menurut Tuhan, hidupnya lebih berarti dibanding kematiannya. “Kalau kamu mati, hanya kamu yang senang, sedangkan kalau kamu hidup, lebih banyak orang yang senang,” kata Tuhan. Kata-kata inilah yang selalu aku pegang. Sehingga setiap kali Ia sakit, separah apapun, aku yakin Ia pasti sembuh. Karena sakit adalah bagian dari prosesnya untuk mendapat pengetahuan tentang misteri Tuhan. Aku akan dengan senang hati mendengarkan apa yang telah dipelajarinya tanpa merasakan penderitaan prosesnya. Benar-benar curang. Maka ketika Ia benar-benar pergi aku tak siap menerimanya. Aku masih ditimpa duka kehilangan walaupun akalku berkata bahwa itulah yang  terbaik untuknya. Ia lebih bahagia disana bersama kekasih sejatinya.  
            Kematian Umi membuatku sedikit mengerti apa yang dirasakan Maulana ketika kehilangan Syams. Pedih karena didera duka perpisahan dengan orang yang menyimpan rahasia Sang Kekasih. Hari-hari menjadi hampa karena tak ada lagi yang memberi kabar tentang Dia Sang Misteri.