Semazen

Sunday, December 16, 2012

#17. Malam Pengantin Rumi


“Ketika aku mati, jangan kau palingkan matamu ke tanah (untuk) mencari 
kuburanku (karena) kuburanku berada di hati orang-orang yang arif.”
-Jalaluddin Rumi-


The green dome, kubah hijau para pecinta.
Tujuh belas Desember adalah hari besar Maulana Jalaluddin Rumi. Para pecinta Maulana dari berbagai sudut dunia, dari berbagai latar agama dan kepercayaan yang berbeda berkumpul di Konya untuk merayakan hari kematiannya. Pada hari ini di tahun 1273 dikala langit senja yang merah merona angkasa  Maulana Jalaluddin Rumi melepaskan keberadaannya di dunia warna dan rasa. Inilah momen terindah bagi sang terkasih. Sebuah momen malam pengantin yang sejati. Yaitu ketika pencinta dan yang dicinta menyatu dalam keabadian. Ketika Ruh Tuhan dalam diri yang merintih dalam kerinduan kembali ke asal-usulnya. Sehingga malam kematian ini pun dikenang sebagai malam pengantin atau Şheb-i Arus dalam bahasa Turki, khusus bagi Maulana, Sang Master Cinta. 
***
Sampai malam hari tanggal 16 Desember ternyata aku belum mendapatkan seorang partner pun untuk ke Konya. Malam itu Edip, malaikat Turki yang kukenal di dunia maya membalas emailku, mengatakan bahwa Ia tidak ada niat ke Konya dan tidak punya teman di sana, tapi dia tahu ada seorang professor sosiologi yang tinggal di Konya dan menulis tentang Sufi. Edip memberikan email Professor itu, tapi aku tidak menghubunginya karena kupikir waktuku sudah teramat mepet, dan besok kemungkinan besar tidak bisa mengecek email karena berencana berangkat ke Konya pagi-pagi sekali. Selin, juga malaikat Turki di dunia maya, mengatakan hal yang sama, tidak punya teman di Konya, sehingga Ia pun tak bisa membantu. Tapi kabar baik datang dari Malaikat Turki di London, Brother Firat. Ia menghubungkan aku dengan seseorang yang bisa menolongku di Konya. Aku sempat kuatir jika calon malaikat Konya ini tidak membuka emailku maka aku akan benar-benar bertualang sendirian. Tapi aku yakin, Maulana ingin aku hadir di hari bahagianya sehingga aku pasti bisa melakukannya apapun caranya. Malam itupun aku terlambat tidur. Aku terus berpikir bagaimana cara Tuhan akan menolongku besok untuk sampai ke acara besar kekasihnya, Maulana. Antara harapan dan kecemasan mulai sedikit berkecamuk didalam hati.

Malaikat Konya

"Setiap batu dan pohon tampak menafsirkan pesan-pesan Rumi ke dalam bahasanya sendiri bagi orang-orang 
yang mempunyai telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat". -Annemarie Schimmel-

       Akhirnya aku benar-benar berangkat sendirian. Jam setengah sembilan pagi masih terlihat seperti subuh. Aku keluar kampus, membeli Koran, dan berangkat menuju terminal Bis dengan metro. Air comberan semuanya membeku dan nafas mengembun. Dinginnya tidak ketulungan. Tiga belas menit kemudian aku tiba di terminal dan langsung menuju loket bis. Masih ada sisa waktu 20 menit sebelum bis berangkat yang kumanfaatkan untuk mencari warnet untuk mengecek barangkali ada kabar menyenangkan. Ternyata tidak.
Aku mendapat tempat duduk paling depan bersebelahan dengan gadis cantik bermata bulat dan berambut panjang. Namanya Sanaz. Gadis kelahiran Ankara 24 tahun silam yang baru lulus dari Universitas Selcuk di Konya jurusan Hubungan Internasional. Dengan latar belakangnya itu ia memberikan banyak informasi yang aku butuhkan tentang Turki, Konya, Maulana, Ataturk, Uni Eropa, humor Turki, dan etliekmek. Yang kusebut terakhir adalah makanan khas Konya yang pernah kumakan ketika pertama kali ke Konya, namun di menu tertulis Turkish Pizza.

Menuju Konya
Ternyata Sanaz pun seorang pencinta Maulana sehingga semakin banyak bahan yang bisa diobrolkan sepanjang perjalanan. Maka tiga setengah jam perjalanan ke Konya menjadi tidak terasa karena malaikat cantik bermata indah ini menjadi teman ngobrol yang menyenangkan.
Sama dengan kebanyakan orang Turki yang sempat aku ajak ngobrol, Sanaz pun heran ketika kuceritakan bahwa Maulana juga populer di Indonesia terutama di anak-anak mudanya. Menurut Sanaz di Turki sendiri baru lima tahun belakangan ini saja anak-anak muda Turki mulai mengenal Maulana. Itupun setelah dunia internasional menaruh perhatian besar pada Maulana, terutama setelah UNESCO menetapkan tahun 2007 sebagai tahun Maulana dan 17 Desember sebagai hari Maulana Rumi. Mereka baru sadar kalau Turki mempunyai permata yang dicari oleh orang diseluruh dunia. Menurutnya kiblat Eropa anak-anak muda Turki tak memungkinkan mereka untuk menyadari harta karun Turki yang tersembunyi dalam diri Maulana. Harta karun yang mampu menuntun manusia untuk menemukan harta yang terpendam dalam diri mereka sendiri.
Sebelum berpisah Sanaz mengingatkan agar aku tidak lupa membeli tiga set souvenir Maulana berupa tiga boneka whirling dervish dalam tiga warna: hitam, abu-abu dan putih, yang mewakili tiga tahap perjalanan spiritual Maulana: Hamdim, Pistim, Yandim, atau  mentah, dimasak, dan dibakar. 

Malaikat Jutek

Di otogar atau terminal bis Konya, malaikat Konya berikutnya sudah menugguku. Sama seperti aku, mungkin Ia pun penasaran seperti apa orang yang akan ditemuinya beberapa saat lagi. Di tengah perjalanan ke Konya Ia sempat menelponku dan memberi tahu namanya. Temel. Aku sering keliru menyebut Tomer, tempat kursus bahasa Turki malaikat-malaikat non-Turkiku. Aku sempat berharap Ia seorang laki-laki yang cukup menyenangkan yang akan membuat petualanganku di Konya lebih seru. Tapi yang ku alami diluar dugaan. Super seru.
Setelah berputar-putar mencari mescid atau musholla, akhirnya aku dan Sanaz menemukan malaikat Konya berikutnya ini. Ternyata tak sesuai bayanganku. Beberapa detik kami berdua saling tertegun sebelum akhirnya aku tersenyum dan memintanya memotret aku dan Sanaz. Setelah didalam mobil barulah kami saling berkenalan dan mengobrol dengan canggung. Aku pun mulai merasa berdosa karena harapan berlebihanku.
Sepanjang jalan menuju Maulana Kültür Merkezi atau Pusat Kebudayaan Maulana –tempat whirling dervish ditampilkan- Temel sering mengumpat karena padatnya kendaraan disepanjang jalan yang kami tempuh. Tampaknya suasana hatinya tidak ceria. Ini membuatku semakin ill feel. Aku menduga ia tak bahagia menjadi malaikatku.  
Sebenarnya aku juga merasa tidak nyaman tapi aku memilih untuk lebih memperhatikan gedung-gedung dan mobil-mobil yang bertebaran di kota Konya. Berbeda dengan minggu lalu yang hujan salju hari ini Konya agak cerah. Padahal aku sudah menyiapkan diri untuk menghadapi situasi salju dengan memakai baju berbagai lapis. Matahari bisa dilihat tanpa kesilauan karena tertutup awan tipis. Ia terlihat seperti bulan purnama tapi lebih kecil dan lebih terang. Menurut Edip itu karena polusi yang cukup parah di Konya.

Didepan pintu Makam Maulana Rumi
Mendekati gedung pusat kebudayaan Maulana, orang-orang terlihat ramai disepanjang jalan terutama dekat museum Maulana. Mungkin tujuan mereka sama, menghadiri hari besar Maulana. Mereka datang dari seluruh dunia dan berkumpul di Konya untuk merayakan hari kematian Maulana. Didepan gedung dekat Maulana kültür Merkezi ada banyak karangan bunga dan orang-orang berbaju resmi berkerumun disana. Menurut Temel mereka adalah para pejabat Turki yang datang untuk acara ini.
Didepan pintu masuk gedung pertunjukan orang-orang membentuk antrian sangat panjang. Aku mengikuti Temel masuk lewat pintu lain karena kami mencari orang bernama Fahri Özçakıl yang ternyata adalah direktur program Maulana kültür Merkezi, penyelenggara event ini. Sanaz yang memberi tahu nama ini dan meminta Temel untuk menemuinya melalui surat berbahasa Turki yang Ia tulis dibuku catatanku. Setelah menuggu beberapa saat seorang laki-laki berusia empatpuluhan lebih keluar dan bercakap-cakap dengan Temel. Dialah Pak Fahri yang kami cari. Aku gelagapan ketika Pak Fahri bertanya kabarku dalam bahasa Turki. Setelah Temel menjelaskan baru aku bisa menjawab, “iyim, tesekkur ederim.” Lalu Temel melanjutkan percakapan dalam bahasa Turki dan aku terbengong-bengong disebelahnya karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah beberapa saat Temel menjelaskan kalau Pak Fahri saat ini tidak bisa membantuku karena sedang sibuk dengan acara Sheb-i arus ini, tapi besok Ia bisa membantu. 
Banyak orang berlalu lalang didalam gedung itu. Temel tampak jengkel. Ia berjalan didepanku sambil menggerutu. Aku mengikuti dibelakangnya dengan perasaan yang juga tidak nyaman. Temel masih saja menyalahkan aku yang dianggap tidak mempersiapkan programku di Konya dengan matang sedangkan bagiku sudah sangat jelas. 
“Aku hanya ingin menonton sema, ke makam Syams Tabriz, dan Al-Qunowi” kataku, “karena minggu lalu aku tidak bisa melakukannya, makanya aku kembali ke Konya. Kalau semua program itu tidak bisa aku lakukan hari ini, aku bisa menginap di Konya.” 
“Kamu sudah reservasi penginapan?”
“Belum” kataku enteng. Ia tampak makin jengkel, “Kamu tahu kan kalau sekarang semua orang dari seluruh dunia datang ke Konya untuk acara ini dan semua hotel atau penginapan pasti penuh?” jawabnya dengan suara tinggi.
“Yee, mene ketehe,” kataku dalam hati. Aku tak berpikir bahwa Konya akan sebegitu ramainya sehingga tak menyisakan tempat untukku. 
“Kalau tidak bisa menginap aku bisa pulang ke Ankara,” kataku tidak mau kalah.
“Kamu sudah pesan tiket bisnya?” tanyanya lagi. Skak! Aku juga tak berpikir tentang tiket bis karena minggu lalu aku dan teman-teman tinggal datang ke terminal bis dan bisa langsung pulang, kenapa sekarang jadi ribet, pikirku.
“Belum,” jawabku pasrah menuggu respon yang lebih buruk. Ia tambah jengkel dan menggerutu, sambil menyebut nama seseorang yang tidak cukup terdengar oleh kupingku. Menurut orang ini aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya sendiri sehingga Temel tinggal menemani. Inilah rupanya yang membuat Temel jengkel setengah mati sehingga Ia menjadi sangat tidak bersahabat. 
Kami kemudian masuk ke dalam gedung yang didalamnya sudah terpajang berbagai foto whirling dervish, berbagai lukisan Maulana, berbagai kaligrafi berbentuk whirling dervish dan turban Maulana serta foto-foto yang menggambarkan penderitaan di berbagai negara terutama dinegara-negara miskin. Semua berderet disepanjang pagar besi gedung yang berbentuk melingkar. Begitu pula di lantai bawah, berbagai souvenir berkaitan dengan acara ini juga ditampilkan di sini. Begitu banyak orang didalam gedung ini. Kami kemudian masuk ke area pertunjukan berbentuk lingkaran. Rupanya Temel telah menyediakan dua undangan masuk, satu untukku dan satu untuk dirinya. Ia meminta panitia yang berseragam putih untuk mencarikan tempat duduk. Kami mendapatkan tempat duduk agak di atas yang membuatku bisa mendapatkan gambar keseluruhan ruangan. Kusiapkan kamera dan mp3 untuk merekam keseluruhan acara. Penonton belum semuanya masuk ruangan sehingga masih banyak kursi kosong di masing-masing tribun. Dua deretan kursi di belakangku dipenuhi oleh anak-anak Turki dengan jacket tebalnya masing-masing. Mereka mungkin anak-anak sekolah dasar. Sedangkan dibelakang mereka duduk perempuan-perempuan berjilbab yang kemungkinan adalah guru-guru mereka. 
Tepat jam dua siang acara dimulai dan semua kursi telah terisi. Mula-mula sambutan dari perdana menteri Turki, Teyyeb Receb Erdogan, kemudian dilanjutkan dengan ensemble dervish yang menyanyikan beberapa hymne Turki yang berlangsung sekitar dua puluh menit. Setelah itu istirahat sepuluh menit. Temel menghilang dari sebelahku karena harus menjemput tamu dari Belanda. Sempat terbersit bahwa Temel pasti lebih bahagia menjemput tamu Belanda ini dibanding aku. Tapi sejak memasuki gedung ini Temel dan kejengkelannya telah terlupakan. Aku terlalu bahagia karena akhirnya bisa hadir di acara besar Maulana.

Şheb-i Arüs

Perayaan cinta di Pusat Kebudayaan Maulana
Setelah istirahat selesai pembawa acara lalu mengumumkan bahwa tiba saatnya  acara inti yaitu Şeb-i Arüs. Ruangan pun berubah lebih gelap dan tenang karena semua lampu dipadamkan kecuali area pemain musik disalah-satu sisi tribun. Sesekali terdengar suara batuk dari penonton. Tak berapa lama kemudian satu orang dervish berjubah hitam terlihat berjalan tenang dari pintu panggung pemusik melintasi area tempat dilangsungkannya tarian Sema yang disebut Semahane. Ia membawa karpet kecil seukuran sajadah berwarna merah dan meletakannya ditepi lingkaran semahane. Ketika Ia telah kembali ke ruangan belakang panggung musik satu persatu pemain musik keluar, memberi hormat pada audiens dengan menundukkan kepala lalu menempati tempat duduk yang telah disediakan di bawah tribun sebelah kananku. Mereka berjumlah lebih dari duapuluh lima orang yang semuanya berjubah hitam, dengan baju dervish didalamnya dan turban dervish di kepalanya. Delapan orang dervish berbaju sama berjalan menuju tepi lingkaran lalu berdiri dekat karpet merah menunggu Syekh yang akan memimpin tarian Sema datang. Tak lama kemudian sang Syekh pun muncul. Ia memberi hormat dengan tangan kanan di dada kiri dan sedikit membungkukkan kepala lalu berjalan dengan tenang melintasi lingkaran dan menempati karpet merah itu. Ia kembali memberi hormat lalu duduk dan bersujud menciumi lantai semahane diikuti para dervish yang duduk beralaskan kulit kambing berwarna putih. Semua mata tertuju ke tengah-tengah lingkaran. Sementara kilat flash dari kamera penonton terlihat hampir di semua tribun. 

Sema and the whirling dervish

Segala sesuatu yang diperlihatkan oleh para dervish ini penuh dengan simbol. Mulai dari atribut yang dipakai, tempat pertunjukkan hingga gerakan-gerakan yang dilakukan, semuanya sarat makna. Turban dervish yang berbentuk batu nisan ala Turki menyimbolkan kematian, yaitu kematian sang ego. Karena perjalanan spiritual tidak mungkin bisa dilakukan jika ego masih ada. Jubah hitam yang dipakai dibagian luar menyimbolkan ego itu sendiri; sedangkan baju putih didalamnya menyimbolkan kain kafan ego. Pada saat akan berputar para dervish akan menanggalkan jubah hitam ini yang menandai dimulainya penyucian hati. Ruang tarian sema atau Semahane yang berbentuk lingkaran menyimbolkan alam semesta. Separuh lingkaran menyimbolkan dunia material sedangkan separuh lainnya menyimbolkan dunia spiritual. Masing-masing dervish akan menari berputar mengelilingi seluruh lingkaran yang menandakan dimulainya perjalanan spiritual. Karpet kecil berwarna merah menyimbolkan langit senja ketika Maulana menyongsong hari penyatuan dengan sang kekasih. Warna ini pun kemudian menyimbolkan penyatuan dengan Tuhan. Warna merah ini juga berarti meninggalkan kehidupan dunia menuju kehidupan spiritual. Sedangkan Syekh yang diduk diatas karpet menyimbolkan  kehadiran Maulana Rumi. 
Permulaan ritual Sema ditandai  dengan dimaikannya musik dan nyanyian puji-pujian untuk Nabi Muhammad yang disebut “Nat-i Sherif. Para dervish dan Syekh duduk di permadaninya masing-masing. Aku dengan perasaan bahagia menunggu setiap perubahan momen yang tampak didepan mataku. Suasana pun mulai berubah lebih hikmat ketika suara ney mulai mengalun. Aku pun teringat Maulana. Ia seolah hadir dan menyaksikan apa yang terjadi. Ia pasti tahu hati mana yang pernah tercabik oleh duka perpisahan sehingga paham apa yang Ia rasakan.  
Suara Ney terus saja mengalun mengiringi langkah para dervish yang berjalan melingkar mengikuti langkah kaki sang Syekh. Semua mata pun tertuju pada mereka tanpa berpikir. Tak ada lagi waktu untuk berpikir karena ney tak menginjinkannya. Ia seolah menyetop pikiran sehingga hanya rasa yang bekerja. Seolah ia berkata, “dengar dan rasakanlah kerinduanku pada batang asalku maka kau akan paham mengapa Maulana seperti itu.” Mungkin untuk alasan inilah ney juga diperdengarkan di makam Maulana. Melalui suara ney inilah para pecinta Maulana akan mampu merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Mualana, sekalipun untuk alasan kepedihan yang berbeda. 
Ketika langkah melingkar itu selesai dan para dervish kembali ke pinggir lingkaran lebih dari sepuluh orang darwish memasuki semahane dan bergabung dengan mereka disisi lingkaran. Sebelum mulai berputar mereka melepaskan jubah hitamnya hingga tinggal baju dervish putih. Inilah momen yang menandai dimulainya penyucian diri dengan melepaskan ego masing-masing dervish. Kedua tangan disilangkan didada yang menyimbolkan kemahatunggalan Tuhan. Satu-persatu mereka berjalan ke hadapan sang Syekh untuk mendapatkan ciuman restu untuk berputar.  Setelah itu mereka berputar kekiri melawan arah jarum jam. Tangan yang semula bersilang kemudian turun ke pinggang dan naik lagi membentuk posisi sema yaitu tangan kanan terbuka menghadap langit dan tangan kiri menghujam bumi. Inilah inti tarian sema. Posisi tangan kanan terbuka ke langit menyimbolkan penerimaan rahmat dari Tuhan melalui hati para dervish. Sedangkan tangan kiri menghadap ke tanah menyimbolkan pendistribusian rahmat Tuhan pada seluruh manusia dan penghuni alam semesta. Perputaran dari kiri ke kanan menyimbolkan perputaran alam semesta. Inilah barangkali simbolisasi fungsi Islam sebagai rahmat bagi alam semesta dalam bentuk ritual tarian Sema atau whirling dervish. 
Ketika semua dervish itu berputar dan rok putihnya mengembang, mereka terlihat seperti bunga melati mekar yang berputar di atas air. Indah sekali di lihat dari atas. Aku bahagia karena tanpa sengaja aku punya kesempatan untuk hadir dalam acara besar ini. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Walaupun sebenarnya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Aku sempat bingung antara keinginan untuk merekam semua dengan video kamera digital, keinginan untuk memotret, dan keinginan untuk benar-benar menikmati tarian ini dengan sepenuh hati. Akhirnya aku memutuskan untuk merekam beberapa menit terutama detail bagian awal, lalu memotret, dan selebihnya aku benar-benar menikmatinya. “God, ijinkan aku merasakan apa yang para dervish itu rasakan.”
Pertunjukkan itu berlangsung sekitar satu jam. Menjelang akhir pertunjukan, dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an, al-Fatihah, sholawat kepada Nabi Muhammad, Maulana Rumi, Syams Tabris dan orang-orang suci yang lain. Susana benar-benar hikmat. Saat akhir pertunjukkan sang Syekh mengucapkan sesuatu dalam bahasa Turki yang kemudian dijawab dengan “Huuuuuuuuuuuuuuu” oleh para dervish. Sang Syekh kemudian mengucapkan, “Assalamualaikum” yang kemudian dijawab “waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Huuuuuuuuuuuuuu,” oleh Syekh yang lain. Tiba-tiba terdengar  teriakan histeris perempuan dari tribun sebelahku, “Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Allahu akbar,” teriaknya. Sang Syekh dan para dervish tak terpengaruh dan melanjutkan lagi, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Huuuuuuuuuuuuu.” Aku bisa memaklumi perasaan wanita yang berteriak itu. Pada saat itu energi di dalam ruangan terasa begitu tinggi. Ada perasaan sangat intens yang aku rasakan yang aku tidak tahu bagaimana harus dilukiskan. 
Satu persatu para dervish pun meninggalkan ruangan. Setelah semua dervish itu pergi orang-orang mulai berdiri meninggalkan tempat duduk mereka masing-masing menuju pintu keluar. Aku masih bertahan karena menunggu perasana intens itu mereda. Ada keinginan untuk tetap mempertahankan rasa itu karena antara kepedihan dan kebahagian seolah menjadi satu. Beginikah yang dirasakan para dervish itu? 

Syams, Matahari Tabriz

Pintu masuk ke makam Syams-i Tabriz,
gurunya Maulana Rumi
Temel sudah lebih dulu menuju pintu keluar. Aku menyusul dan bertemu dengannya di depan pintu. Setelah itu kami keluar melewati foto-foto dan lukisan yang dipajang. “Kita kemana lagi?” tanyaku pada Temel. “Lho, yang punya progam kan kamu,” jawabnya dengan intonasi yang tidak menyenangkan. Tapi karena suasana hatiku sedang bahagia aku tak terpengaruh. Apalagi aku sadar nasibku agak tergantung padanya hari ini. Jadi kubiarkan saja kata-kata kemarahannya menari-nari dikupingku. Aku hanya perlu ekstra waspada agar kata-kata itu tak menembus hatiku.  
Hari mulai gelap. Kami berkendara melewati pintu keluar museum Maulana yang tidak begitu jauh dari gedung Maulana kültür Merkezi. Bis-bis besar berjejer dipinggir jalan dekat museum. Temel sempat menawarkan apakah aku masih ingin melihat Maulana. “Sure,” kataku enteng. “Kamu tidak lihat mobil-mobil sebanyak ini artinya apa?” katanya dengan suara tinggi.
Busyet! Aku benar-benar kaget, “Ya, artinya banyak orang didalam sana dan kemungkinan untuk masuk sulit,” jawabku tanpa bernafas.
“Kamu masih mau mencobanya?” tanyanya lagi. Aku heran, orang ini sepertinya keberatan untuk masuk museum sekarang malah memberikan tawaran. Aku sadar posisiku lemah tapi aku tidak mau mengorbankan rencanaku hanya karena orang tidak asik satu ini. 
“Tentu saja aku ingin mencobanya. Kamu keberatan?”
Temel bilang, “No,” tapi mukanya bilang, “Yes”. 
“Ya sudahlah kita ke Syams saja,” kataku. Lalu kita berkendara ke makam Syams. Mobil melaju dengan sangat tidak nyaman karena Ia menyetir dengan kemarahan. Seringkali Ia mengerem mendadak sambil membuyikan klakson dengan jengkel dan mengumpat. Aku tertawa dalam hati. Selama tujuh belas hari di Turki aku telah berlatih sabar dan pasrah sehingga aku tidak punya rasa takut sama sekali. Kalaupun aku harus celaka atau mati hari ini aku siap menerimanya. “Kamu tidak takut dengan caraku menyetir?” tanya Temel tiba-tiba. Aku tertawa. Rupanya Ia sadar kalau dirinya menyetir seperti kesetanan. “Tidak,” kataku mantap.
Akhirnya kami tiba di Makam Syams. Aku tidak tahu seberapa jauh dari Museum Maulana karena kami naik mobil dengan jalan yang berputar-putar. Aku tak sempat memperhatikan keadaan sekeliling karena sibuk memikirkan situasi yang terjadi antara aku dan Temel. Tapi banyaknya kendaraan yang memadati jalan menunjukkan hari itu Konya benar-benar punya hajatan besar.
Tempat Syams tidak sebesar dan seramai peraduan Maulana. Walaupun Ia yang menyulut api cinta di hati Maulana namun Ia tak dikenal dan tak dicinta sebagaimana Maulana. Syams adalah guru Maulana, yang telah mengubah sang Master Cinta ini dari seorang pecinta menjadi yang dicinta Tuhan. Syamslah yang membakar Maulana hingga matang. Namun karena tak semua mata mampu melihat cahaya Tuhan, begitu pula pengikut-pengikut Maulana yang tak mampu melihat cahaya Tuhan dalam diri Syams, kecuali Maulana sendiri.
Menurut cerita Syams di bunuh oleh pengikut Maulana yang tak rela gurunya dibikin “gila” oleh Syams. Maulana tahu siapa Syams tapi murid-muridnya tidak sehingga mereka tak mengerti rasa cinta Maulana pada Syams. Berkali-kali mereka mencoba memisahkan Syams dari Maulana karena menganggap Syams telah merusak Maulana dan menjauhkan guru yang mereka cintai itu dari mereka. Syams telah membuat Maulana, sang guru terhormat itu menari berputar-putar di pasar seperti orang gila sambil berpuisi. Syams telah membuat Ulama yang mereka hormati itu berani membawa minuman haram keliling pasar. Akal mana yang sanggup menerima pemandangan seperti ini?

Makam Syams-i Tabriz
Syams memang tak mudah dimengerti kecuali oleh mereka yang mampu melihat cahaya Tuhan. Syams tak dihormati karena Ia tak seperti harapan kebanyakan orang tentang seorang kekasih Tuhan. Maulana melihat cahaya Tuhan dalam diri Syams  sedangkan pengikutnya tidak sehingga mereka tak mencintai Syams sebagaimana Maulana. Sesuai namanya yang berarti “Matahari Agama”, Syamsuddin menerangi hari-hari Maulana sejak hari pertama pertemuan mereka. Sehingga ketika Syams menghilang Maulana diterpa kegelapan yang mencekam dan duka yang sangat dalam. Berpuluh-puluh puisi terlontar mewakili kerinduan Maulana pada Syams yang telah membawanya menjadi kekasih Tuhan. Rasa keterpisahan yang teramat dalam pada Syams inilah yang telah membakar Maulana hingga matang.
Aku berdiri dipinggir pagar makam sang Guru Syams. Ia berada dalam sebuah bagunan berkayu. Tak  sebesar dan tak seindah kediaman Maulana. Tak banyak kaligrafi indah ataupun suara ney. Ia sendirian. Disisinya bersandar sebuah lukisan darwis dan puisi dalam bahasa Turki yang tak aku mengerti. Para peziarah laki-laki melakukan sholat magrib disebelahnya sedangkan para perempuan harus sedikit naik ke atas loteng yang sempit. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada Syams kecuali terima kasih. Aku merasa Syams berbeda dari Maulana. Ia terkadang terlalu sinis dalam menyindir orang-orang yang berpikiran dangkal. Syams tak peduli apakah mereka akan membenci dirinya atau tidak. Ia  seorang Sufi nyentrik yang tak membuat banyak orang tertarik kecuali Maulana. Syams menyadari semua itu. Seperti matahari, Syams tak tergantung pada siapapun, seperti kata-katanya sendiri: “Kesenangan datang dari dalam diriku dan kesedihan datang dari dalam diriku. Jadi, hidup denganku itu sulit.” Tak ada yang mampu membuat Syams senang ataupun sedih kecuali dirinya sendiri. Ketika senang dan sedih telah terlampaui lalu apa yang terasa? Oh, Guru Syams. Menurutku itulah kebebasan sejati.

Road to Sufi

Walaupun menjengkelkan Temel rupanya tetap memperhatikan keinginanku untuk ke Museum Maulana. Ia berhenti di depan Museum dan memarkir mobilnya di depan deretan toko-toko souvenir. Aku merasakan sebenarnya Ia juga tidak ingin bersikap tidak ramah tapi berubah sikap dengan mendadak pastilah akan terasa lucu. Karena aku merasa turut andil pada sikap tak ramahnya maka aku berusaha menebusnya dengan mengajaknya bercanda. 
“Hey, aku tahu arti tulisan di tulip merah itu,” kataku seceria anak kecil sambil menunjuk tulip merah bertuliskan, “Konya simdi daha da guzel,” di taman depan mesjid Sultan Selim yang minggu lalu aku foto.   
“Ok, coba kamu artikan untukku,” jawab Temel dengan nada yang tidak lagi menjengkelkan, seperti seorang kakak.
“Konya hari ini jauh lebih cantik,” kataku gembira. Ia tersenyum walaupun masih agak ja’im.  
Di depan Museum Maulana sudah tidak ada lagi antrian. Tak ada petugas loket di pintu masuk sehingga kami langsung masuk. Malam itu banyak sekali pengunjung yang berlalu lalang dibagian luar museum. Ada stasiun TV sedang mengambil gambar dengan kamera bertangan panjang. Aku sempat memotret kesibukan di bagian luar museum dan juga si malaikat yang sering jengkel ini. Ia sempat keberatan untuk kupotret, tapi aku tidak peduli dan memaksanya untuk berpose. “Ayolah, biar aku punya fotomu,” bujukku. Ia tak kuasa menolak karena aku sudah siap dengan kamera didepannya. Taktik jitu yang kejam. Dengan terpaksa Ia tersenyum dan, “klik,” kuabadikan senyum terpaksa itu.
“Hmmm, bagus kok,” komentarku setelah kulihat hasilnya. Ia minta kameraku untuk melihatnya. Tidak berkomentar tapi sepertinya setuju.   
Kami lalu masuk ke dalam museum. Lebih banyak orang dibanding minggu lalu ketika aku pertama kali datang. Aku langsung menuju Maulana dan berdiri disampingnya. “Terima kasih, Maulana, atas undangannya. Jika hari ini aku belum banyak mengerti apa yang telah engkau alami semoga suatu saat nanti aku akan mengerti.” 
Setelah obrolan diamku dengan Maulana kurasa cukup aku kemudian mundur dan duduk disebelah seorang laki-laki tinggi, kriting, dan berwajah Perancis. 
“Apakah anda orang Turki?” Tanyaku basa-basi.
“Tidak, aku orang Australia.” Jawabnya.
“Apakah Anda datang untuk Sheb-i arus ini?” 
“Ya, karena aku pengagum Rumi,” jawabnya. 
Aku berseri-seri mendengarnya. Kami lalu ngobrol tentang Maulana. Namanya Thomas, seorang poet atau pujangga yang sudah banyak membuat musical poem. Ia datang ke Maulana karena Ia suka pada puisi-puisi Maulana dan Ia juga tertarik pada Sufisme walaupun belum lama. Aku bercerita tentang tujuanku ke Turki dan Konya yang ujung-ujungnya ternyata Ia punya informasi tentang kelompok Sufi di Istanbul. Ia berjanji akan memperkenalkan aku pada seorang Sufi di Istanbul. Kami kemudian saling bertukar nomor HP dan email. Ia memintaku untuk mengirim email, nanti akan ia berikan alamatnya. Temel yang sejak tadi berdiri dibelakang Thomas, bersandar pada dinding sambil sibuk SMS-an kemudian berjalan kesebelahku dan menyela percakapanku dengan Thomas. 
“Sepertinya Ia punya banyak infromasi tentang Sufi, tapi kita tidak punya banyak waktu,” katanya dengan muka memerintah. “Iya iya,” kataku sambil buru-buru memasukkan buku tulis yang kupakai untuk mencatat email Thomas. 
Aku bilang ke Temel kalau aku butuh beli Suvenir. Kejengkelan Temel yang tadi sempat menurun bangkit kembali, “Kamu kesini mau ketemu Maulana atau beli souvenir?” Katanya dengan suara tinggi.
“Dua-duanya,” kataku enteng. Sebenarnya aku agak malu diperlakukan seperti anak kecil didepan Thomas, tapi apa boleh buat, nasibku bergantung padanya malam ini. 
Ia tidak keluar melalui pintu dekat makam Maulana melainkan berbalik menuju benda-benda museum lain yang berada di sebelah makam. Ia mengajakku melihat-lihat al-Qur’an dan naskah-naskah kuno serta benda-benda lain yang ada di situ sambil berusaha menjelaskannya. Aku heran karena tadi Ia bilang buru-buru sekarang malah mengajakku melihat-lihat isi museum. Minggu lalu aku sudah melihatnya dan membaca semua keterangan yang ada tentang benda-benda itu tapi untuk menghargai niat baiknya aku dengarkan saja Temel bercerita seolah baru pertama mendengarnya. “Tuh kan, sebenarnya orang ini baik,” kata malaikat kecil diatas bahu kananku. 
Sebenarnya aku ingin membeli DVD Sheb-i arus di ujung museum untuk temanku, tapi Temel keburu keluar. Kami lalu berjalan keluar menuju toko-toko souvenir yang berderet di depan museum. “Oke, kamu punya waktu 15 menit untuk membeli souvenir, nanti kita bertemu ditempat ini,” perintah Temel, “waktu kita tidak banyak, kita harus mencari tiket bis untuk kamu pulang ke Ankara,” perintahnya. 
“Tenang saja, tidak akan sampai lima belas menit, kok”, kataku. Akupun melakukannya dengan cepat. 

O şimdi asker  dan Etlietmek

Mesjid Sultan Selim, depan museum Maulana
Kami kemudian menuju kantor bis yang sempat kami lihat sebelum ke tempat pertunjukan Sema. “Aku punya teman yang juga akan ke Ankara malam ini. Kamu bisa bersama dia. Nanti akan aku atur agar kamu bisa duduk bersebelahan dengannya karena dia punya informasi tentang Sufi. Kalian bisa ngobrol.”
“Oke, bagus, kalau begitu,” kataku, “thank you”.
Kami kemudian sampai di kantor bis bernama Özkaymak. Temel menjelaskan rencana mendudukkan aku dengan temannya pada pegawai Özkaymak. Aku lalu membayar tiket sebesar 23 Lira. Aku lihat tempat dudukku nomor 39, sementara teman Temel katanya 34. Ketika berada di dalam mobil aku menanyakan hal ini pada Temel. “Bagaima aku bisa duduk disebelah temanmu kalau jarak nomor kita jauh?” 
“Tenang saja, percayalah padaku. Aku biasa mengatur semuanya” jawabnya penuh percaya diri. 
“Kamu sombong sekali, apa kamu selalu sukses melakukan apa yang kamu rencanakan?”
Dengan bangga dia bilang, “Alhamdulillah, selama ini aku selalu sukses, melakukan pekerjaanku.”
“Kalau begitu kamu perlu mengalami gagal, merasakan kegagalan” kataku. “Agar bisa lebih menghargai orang,” lanjutku dalam hati. Untuk memecah kebekuan kuceritakan tentang lelucon yang kudapat dari Sanaz tadi siang tentang O şimdi asker yang berarti “Ia sekarang menjadi prajurit”. 
“Aku tidak melihat lucunya kalimat itu,” katanya.
“What?! kamu yang Turkish tidak bisa melihat lucunya kalimat itu?” tanyaku sok  heran.
“O şimdi asker, apanya yang lucu?” tanyanya. 
Kupikir semua orang Turki akan langsung paham dengan lelucon O şimdi asker  ini, ternyata tidak. Orang disebelahku buktinya.
“Bahasa Turki punya berapa huruf?” tanyaku.
“Dua puluh sembilan,” jawab Temel.
“Salah, duapuluh delapan,” jawabku sok lebih tahu dari orang Turki sendiri. “Karena O şimdi asker’, O sedang jadi prajurit.” Barulah Ia mengerti tapi tetap menganggap tidak lucu. Dasar Temel.
O selain sebagai alfabet juga berarti “dia.” Sama seperti bahasa Indonesia yang tak mengenal jenis kelamin kata benda, O bisa digunakan untuk kata ganti orang ketiga baik laki-laki ataupun perempuan. Dalam bahasa Inggris O berarti “he, she, it.” Pada konteks Turki karena semua laki-laki wajib menjalani wajib militer maka kata-kata ‘O şimdi asker’ menjadi sangat umum di Turki.
Setelah diam agak lama akhirnya aku berani mengatakan kalau aku sudah lapar. Sebelum ke makam Syam Ia sempat bertanya apakah aku lapar atau tidak, tapi kujawab tidak karena aku masih malu. Tapi karena perjalananku masih jauh dan aku merasa tidak akan tahan karena belum sempat makan apapun sejak pagi, aku terpaksa jujur kalau aku lapar. Kali ini aku tidak mau menyiksa diri hanya karena malu. Ia lalu membawaku ke Cemo, restoran etliekmek yang kata Temel sangat populer di Konya. Benar saja, malam itu pengunjungnya banyak sekali sehingga kami menunggu etliekmek-nya begitu lama. Selama menunggu pesanan datang kita tidak banyak bicara, walaupun aku sudah memancing-mancingnya dengan berbagai pertanyaan untuk mencairkan kebekuan. Tapi tidak berhasil. Jawabannya singkat-singkat sambil sibuk SMS-an. Aku pun mati gaya. Ya sudahlah, chemistery diantara kita memang tidak ada.  Ketika itu Thomas sempat menelpon, Ia bilang kalau aku ingin bertemu dengan Sufi aku bisa datang ke hotel tempatnya menginap malam ini. Aku ingin sekali tapi sayang aku tak mungkin  mengajak Temel mengubah rencana. Bisa-bisa taring dan tanduknya tumbuh kembali dan amarahnya siap menerkamku. Ah, sudahlah, pasti masih banyak jalan lain menuju Sufi, pikirku.
Ketika etlietmek datang aku bahkan tak sanggup menghabiskan satu potongpun. Bukan karena tidak enak tapi karena sudah terlalu lapar dan suasana hati yang campur aduk. Etlietmek itupun akhirnya kubawa pulang ke Ankara.
Jawaban-jawaban

Suasana malam di Museum Maulana
Malam terasa semakin dingin. Ujung jari-jari dan tulang punggungku terasa beku walaupun berjaket tebal dan baju berlapis-lapis. Aku menahahn diri agar tak menggigil didepan Temel. Dari Cemo kami lalu menuju hotel Selçuk. Fatih, teman Temel yang akan ke Ankara malam ini akan menjemputku di hotel ini. Semoga temanmu ini lebih ramah, harapku dalam hati. Tak berapa lama sebuah mobil sedan berhenti didepan hotel. Dua orang perempuan keluar dari mobil, tersenyum dan langsung menuju hotel. Seorang laki-laki berambut pendek kriting, agak gemuk dan bermata biru tapi lebih terang dari Nazar bunjuğu keluar dari mobil itu juga, menghampiri Temel, berjabat tangan lalu berpelukan dan saling membenturkan kening kiri dan kanan. Tampaknya mereka sahabat dekat. Lalu Temel memperkenalkannya ke aku. Dialah Fatih. Harapanku terkabul, Fatih lebih ramah dibanding Temel. 
Setelah berterima kasih dan menyalami Temel -yang membalas dengan canggung-  aku lalu masuk ke dalam mobil yang didalamnya ternyata ada paman dan istri paman Fatih. Aku duduk dibelakang bersama istri sang paman. Aku lalu diperkenalkan. Paman Fatih yang tidak bisa bahasa Inggris lalu bercerita pengalaman hajinya tahun lalu. Ia bertemu orang Indonesia di depan Ka’bah. Ketika itu orang-orang tidak ingin berbagi tempat dengan orang lain sehingga ia tidak dapat tempat. Tapi kemudian Ia bertemu dengan orang Indonesia yang menyeretnya dan memberikan tempat padanya. Ia merasa berhutang budi karenanya. Lalu Fatih menerjemahkannya dalam bahasa Inggris ke aku. Aku tertawa. Aku bilang bahwa kemarin aku juga mendengar cerita yang sama dari seorang Profesor di fakultas pertanian universitas Ankara. Ia bercerita ketika haji beberapa tahun yang lalu Ia juga bertemu dengan orang Indonesia, yang menurutnya sangat ramah dan suka ngobrol.

Menara di Museum Maulana
“Kalau begitu, itu bukan sekedar cerita, tapi fakta” kata Fatih.  Lalu pamannya menambahkan, kalau aku ke Konya lagi dia bersedia membantu semua yang aku butuhkan. Aku berterima kasih dan tertawa. Kenapa tawaran baik ini tidak datang sebelumnya, kataku dalam hati.  
Didalam bis aku dan Fatih duduk sesuai nomor kursi. Fatih tampak berbicara dengan kondektur. Mungkin membicarakan tentang rencana untuk tukar tempat duduk. Tidak berapa lama kemudian Ia memanggilku untuk duduk disebelahnya. Tapi ketika aku sudah angkat pantat untuk pindah Ia bilang tidak jadi. Bapak yang duduk disebelahnya tidak mau tukar tempat duduk. Akhirnya aku kembali lagi ke tempat duduk semula bersebelahan dengan seorang perempuan yang ternyata malaikat keduabelasku, Can Guldere, seorang istri diplomat yang ternyata tahu banyak tentang Sufi. Fatih adalah malaikat ke sebelas. 
“Apakah anda orang Turki?” Tanyaku.
“Ya,” katanya, “Aku tinggal di Ankara. Kamu dari mana?”
 “Endonezya,” kataku dengan pronounce Turki. Lalu kujelaskan maksud kedatanganku ke Turki khususnya Konya yang hanya ingin bertemu Maulana. Ia terlihat heran, “kamu kenal Maulana sebelumnya?”
“Ya, tentu saja. Maulana cukup populer di Indonesia terutama di kalangan anak mudanya. Banyak mahasiswa Indonesia yang mengenal Maulana.” Ia tampak kaget, mendengar banyak orang Indonesia yang kenal Jalaluddin Rumi. Karena menurutnya, di Turki sendiri hanya orang-orang tertentu yang mengenal Maulana. Ketika kujelaskan lagi bahwa Ibn Arabi juga populer di Indonesia, Ia terlihat tambah kaget. Selanjutnya Ia menaruh minat untuk ngobrol denganku lebih jauh. 
“Apakah kamu sendirian ke Konya?” 
“Ya”
“Ke Turki juga sendirian?”
“Ya, dan tidak tahu banyak tentang Turki sebelumnya?” jelasku tanpa ditanya. 
 “Tadinya bertebaran orang Turki di tempatku, terutama setelah gempa. Bahkan pernah ada pusat studi Turki di universitasku tapi ketika aku membutuhkannya semuanya lenyap. Sepertinya Turki menghindariku.”
“Wow,” seru Can sambil mendengarkan ceritaku. Aku terus saja nyerocos. 
“Sebenarnya kedatanganku ke Turki untuk tujuan akademik karena aku menulis tentang perempuan Sufi. Tapi aku tidak puas hanya menjadi pengamat tanpa merasakan sendiri apa artinya menjadi seorang Sufi. Aku ingin mulai belajar mengalaminya sendiri. Aku memulainya dari Konya, melalui Maulana karena Ia dulu yang membangunkan kesadaran spiritualku”. Can mendengarkan ceritaku dengan penuh perhatian. 
Ketika kuceritakan bahwa aku menuliskan setiap pengalaman yang kudapat dan membaginya dengan teman-teman melalui milist, Can tampak takjub dan berpikir sesuatu. 
“Dengar!” katanya dengan mata membelalak. “Aku dulu bercita-cita berkeliling dunia, lalu menulis buku dan berbagi pengalaman-pengalaman hidup yang kualami. Sama seperti yang kamu lakukan. Bahkan aku berpikir untuk tidak menikah selamanya. Tapi kemudian semuanya berubah. Aku menikah, punya dua orang anak, menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Hanya mengurus suami dan anak-anak. Sekarang aku sudah 42 tahun. Kamu tahu, aku merasa hidupku tertekan,” jelasnya. Aku melihat kegelisahan di wajah cantiknya dan merasakan beban yang berat dalam suaranya.

Kebun Mawar (Rose Garden) di Museum Maulana
“Salah satu alasan aku ke Konya adalah aku ingin keluar dari tekanan rutinitas itu.  Aku ingin mencari sesuatu yang selama ini terasa hilang dalam hidupku.” 
“Kalau rutinitas itu dilakukan dengan kesadaran yang berbeda mungkin tidak akan membosankan,” kataku. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku yang membuat Can melihatku dengan wajah penasaran. Aku pun merasa harus bertanggung jawab atas apa yang sudah terlontar dari mulutku.
“Aku tidak pernah punya niat untuk tidak menikah,” jawabku. “Bagiku hidup tidak komplit kalau tidak menikah”. 
Ia membalikkan tubuhnya dan semakin memelototiku, menuntut penjelasan lebih lanjut.
“Ya, bagiku menikah tetap penting. Aku ingin mengalami menikah dan menjadi orang tua. Sebab kalau tidak aku tidak akan pernah mengerti cinta ibuku terhadapku,” kataku berusaha menjawab pelototannya. Ia masih dengan muka tercengannya. 
“Aku ingin mengalami semuanya sebelum aku mati,” lanjutku. Aku tidak ingat apakah aku pernah memikirkan kata-kataku ini sebelumnya. 
Muka Can Guldere tiba-tiba berubah. Ia tampak kaget dan lebih serius. Sepertinya kata-kataku telah menghantamnya. Tapi aku merasa bahwa aku menceritakan diriku sendiri sehingga Ia tak perlu tersinggung karenanya.
“Dengar, kurasa kita bertemu di sini bukan kebetulan,” katanya. “Aku ke Konya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hidupku. Lalu aku pulang ke Ankara naik bis bersebelahan dengan seorang perempuan muda Indonesia yang berkeliling dunia ke Turki sendirian dan menulis. Lalu mengatakan padaku bahwa pengalaman hidup tidak komplit kalau tidak menikah. Wow!”  katanya sambil menarik nafas dan tetap dengan muka takjubnya.
Can lalu bercerita bahwa tadinya Ia memesan bis Özkaymak, tapi dikatakan bahwa bis terakhirnya sudah berangkat. Lalu Ia ke loket bis Konzet, ternyata juga sudah penuh, dan disarankan ke Özkaymak, padahal katanya bis terakhirnya sudah berangkat. Ternyata aku sekarang di Özkaymak, duduk bersamamu, yang tadinya kamu di atur untuk duduk bersama teman laki-lakimu itu. Ini bukan kebetulan, kan?” Aku mangangguk. Setelah itu Ia banyak sekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang sebenarnya adalah pertanyaanku sendiri. Sekarang situasi menempatkan aku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Akupun juga belajar dari jawaban-jawaban tak terduga yang kuberikan. Malam itu aku merasa jadi medium datangnya jawaban dari pertanyaan kami berdua.
Setelah agak rileks Can lalu berceritan tentang seorang laki-laki yang pernah satu rombongan dengannya. Ketika itu musim salju, karena ruangan terlalu ramai laki-laki itu melakukan namaz (sholat) di luar ruangan, diatas salju. Ia dan beberapa orang yang melihat laki-laki itu tentu saja heran karena laki-laki itu tak terlihat kedinginan padahal udara bisa membekukan. Bahkan setelah beberapa lama laki-laki itu masih tetap melakukan sholatnya tanpa kedinginan sedikitpun.
Salah seorang dari rombongan lalu berkomentar, “begitulah kalau mencintai Tuhan dengan benar.” Can berbalik dan bertanya pendapatku. Aku hanya menjawab bahwa orang itu telah melampaui hukum-hukum fisika. Ketika seseorang terserap dalam cinta pada Tuhan Ia sudah tidak terpengaruh oleh panas atau dingin, alam sudah tunduk kepadanya. 
Setidaknya aku pernah menjumpai orang sejenis yang Ia ceritakan yang melakukan sholat dibawah terik matahari. Walaupun keringat dibandannya bercucuran seperti gelas berisi es tetapi ia tidak merasakan panas sama sekali. “Jika sholat dengan benar maka dunia luar tidak akan mempengaruhimu,” katanya.   
Sepanjang jalan dari Konya ke Ankara kami berdua terus ngobrol, sementara penumpang-penumpang lain tidur. Ia tak henti-hentinya mengatakan bahwa pertemuan kami bukan kebetulan. Kita sudah di atur untuk bertemu. 
Di pertengahan jarak antara Konya dan Ankara Can menanyakan tentang cinta. Aku tersenyum dalam hati. Aku datang ke Konya, ke rumah Maulana, berharap memahami satu kata ini. Ini sebuah kebetulan atau sebenarnya pertayaan ini adalah pertanyaan universal yang juga ditanyakan semua orang?  Setiap orang penasaran dengan cinta rupanya.
 “Kalau kita mencintai Tuhan apakah kita tidak bisa mencintai orang lain, misalnya suami atau anak-anak. Karena aku ingin mencintai Tuhan tapi aku masih sangat mencintai suami dan anak-anakku,” tanyanya. 
“Aku rasa, kalau kita benar-benar mencintai Tuhan kita akan mencintai semuanya, semua manusia bahkan semua makhluk di alam semesta ini. Sudah tidak ada lagi perbedaan karena Tuhan dan bukan Tuhan telah terlampaui sehingga yang terlihat hanyalah wajah Tuhan. Sehingga semuanya layak dicintai,” jawabku.
Ia kemudian diam, berpikir sesuatu. “Iya, aku ingin memahami itu. Aku baca semua buku-buku psikologi dan buku-buku Sufi tentang cinta. Tapi aku tidak paham-paham.” Ia lalu memperlihatkan beberapa buku psikologi tentang cinta di tasnya. Ada Erich Fromm, Jung, dan penulis Turki. Ia seolah memperlihatkan diriku sendiri. Begitulah yang telah aku lakukan. Di rak bukuku ada berbagai buku tentang cinta. Tapi kemudian semuanya membosankan. 
“Itu semua teori,” kataku. “Teori kadang menjebak dan menjadi penghalang untuk membiarkan sesuatu berjalan apa adanya. Karena kita kemudian berharap mengalami seperti yang dikatakan teori-teori itu, kan? Atau cenderung menganalisis dari pada membiarkan sesuatu terjadi apa adanya. Jika para Sufi menganjurkan untuk membuang semua pengetahuan untuk bisa bertemu dengan Tuhan, aku pikir ada benarnya. Aku sedang bereksperimen dengan itu. Itulah mengapa aku tinggalkan semua teori-teori itu di Indonesia. Dan dengan segala keterbatasan yang ada aku pergi ke Turki membawa hatiku yang siap mengalami apapun yang akan terjadi,” kataku sambil ketawa karena aku merasa agak konyol dengan diriku sendiri. Ia malah terlihat lebih serius. Lalu seolah berpikir lagi. Aku menunggu apa yang akan dikatakannya selanjutnya sambil melihat keluar jendela memperhatikan malam.
Ia lalu bercerita tentang seorang Imam teman seperjalanannya dari Ankara ke Konya. Menurutnya imam itu sangat baik. Ketika Ia dan Imam itu masuk ke makam Maulana imam itu mengritik orang-orang yang sedang berdoa didalam museum Maulana. Menurutnya orang-orang itu keliru karena yang layak untuk lebih dicintai adalah Nabi Muhammad bukan Maulana.  Ia lalu bertanya pendapatku. Aku merasa termasuk yang dikritik oleh Imam itu.
“Kupikir Imam itu masih beragama hanya dengan pikirannya, masih dengan konsep-konsep, tidak dengan hati dan pengalamannya sehingga Ia tidak mengerti. Aku jatuh cinta pada Nabi Muhammad sejak usia sembilan tahun. Kalau sekarang aku mencintai Maulana bukan berarti aku telah kehilangan cinta pada Nabi Muhammad atau cintaku untuk Nabi telah berkurang. 
“Maulana dan para Sufi adalah kekasih-kekasih Tuhan yang membuat ajaran Nabi lebih mudah dimengerti. Mereka melanjutkan tugas Nabi Muhammad, menunjuki jalan pada Tuhan yang  membuat kita dengan sendirinya menyadari keterpujian Nabi Muhammad. Mengapa Ia layak menyandang nama Muhammad (Bahasa Arab: "yang terpuji"). Maulana sendiri mengakui bahwa dirinya hanyalah setitik debu dibawah telapak kaki sang Nabi. Apakah salah mencintai orang jenis ini? Jika saat ini kita tampak lebih mencintai Maulana itu karena saat ini ruang dan waktu kita lebih dekat pada Maulana, itu saja. Bukan berarti kita tidak lebih mencintai nabi Muhammad, iya kan?” tegasku agak emosional. 
Can tampak sepakat denganku dan kelihatan berbinar-binar. Sejenak kami diam hingga akhirnya Ia berkata, “Aku jadi ingat Meister Ekhart” katanya. “Kamu tahu Meister Ekhart?”
“Ya, tentu saja’” kataku. Meister Ekhart adalah seorang mystikus dari tradisi Kristen.
Can bercerita, “ketika Meister Ekhart ditanya, ‘apakah kamu percaya pada Tuhan?’ Ia menjawab, ‘tidak, aku tidak percaya pada Tuhan, tapi aku mengenal Tuhan.” Can menatapku meminta tanggapan.
Aku tertawa, “Dia benar, dia tidak lagi pada tingkatan percaya, tapi sudah mengenal Tuhan,” jawabku. Can tersenyum. Lalu kami diam dan sibuk dengan pikiran dan rasa masing-masing.
Ketika kukatakan kalau aku ingin mewawancarai sufi perempuan di Turki ia melihatku lekat-lekat. “Kamu harus ketemu Cemalnur Sargut. Dia seorang Sufi dan sering diminta berbicara tentang Sufi dimana-mana. Ia juga berbahasa Inggris sehingga kamu bisa berbicara langsung dengannya. Aku bisa menghubungkan kamu dengan dia.” Ia lalu menuliskan satu nama lagi, Ö. Tuğrul İnançer. “Siapa dia?” tanyaku. “Dia Syekh yang memimpin tarian sema tadi. Dia pasti tahu orang-orang yang bisa kamu temui. Nanti kuhubungi temanku, biar dia bisa menghubungkanmu dengan Syekh  İnançer.” 
Lagi-lagi Can Guldere yang istri seorang diplomat mengatakan bahwa pertemuanku dengannya bukanlah kebetulan. “Kita dihubungkan, karena aku juga punya informasi yang kamu butuhkan”. 
“Ya,” kataku, “melalui Maulana.” 
Ketika Bis sampai di terminal Ankara. Can sudah ditunggu oleh suaminya. Ia turun dari bis dan langsung memeluk dan menciumi suaminya. Aku menghampiri Fatih dan melanjutkan obrolan yang tak bisa dilakukan selama perjalanan. Fatih memberiku email Esin Çelebi Bayru, generasi ke-22 Maulana Rumi yang juga wakil presiden International Mevlana Foundation. Saat itu jam sebelas kurang, artinya metro masih ada sehingga Fatih tidak perlu mengantarku ke Asrama seperti yang Ia rencanakan jika ternyata metro telah tutup. 
Aku dan Fatih berjalan kearah yang berbeda. Ia sudah ditunggu istrinya di tempat parkir sementara aku berjalan menuju stasiun metro di bawah terminal. Ini metro terakhir dan hanya ada beberapa penumpang didalamnya. Sama seperti aku mereka tampak kedinginan walaupun berjaket tebal. Aku duduk sendirian jauh dari penumpang lain dan melamunkan satu hari itu yang terasa sangat panjang dan penuh momen berarti. 
Malam itu hidup terasa terang benderang dan begitu sederhana sehingga tak ada setitik alasan pun untuk berduka. Semuanya seolah tersenyum. Malam tersenyum, kaca jendela metro tersenyum, tiang-tiangnya juga tersenyum. Aku sangat bahagia.
Thanks, God, for the great day!.


Museum Rumi dan kubah hijau para pecinta

Semazen atau penari Sema alias the whirling dervish
dan para musisi

Berkumpul di semahane (tempat menari sema)

Syekh pembimbing siap memimpin tarian Sema'

Saling memberi hormat sebelum ritual di mulai

Memberi hormat pada Maulana yang
diwakili oleh karpet merah simbol
penyatuan  pecinta dan yang dicinta

Jubah hitam perlambang ego sudah di lepas dan siap
melakukan  perjalanan spiritual

Memhon restu pada syekh sebelum berputar
melakukan perjalanan spiritual

Menari menghampiri Tuhan diiringi alunan Ney

Tangan kanan menghadap ke atas simbol penerimaan
Rahmat Tuhan, tangn kiri menghadap ke bawah simbol
pendistribusian rahmat Tuhan.

Bercinta bersama Tuhan

Semoga kita menjadi Rahmat bagi seluruh alam!

Friday, December 14, 2012

#13. Mata Setan, Ayu Utami dan Rumi


 “Hu konon adalah kata yang terlontar pertama kali di jagad raya” 
-The Last Barrier-


            Setelah membaca majalah wanita yang menurunkan laporan wisata di Turkey, aku baru tahu kalau gambar sampul novel Ayu Utami yang berjudul “Bilangan Fu” namanya evil eyes atau mata setan. Sebuah mata dengan kornea biru dengan iris hitam. Tentu kejadiannya ketika masih di Indonesia, karena di Turkey tak ada apapun yang berbahasa Indonsia kecuali warning dari pembuat virus brontox yang kami temui di semua monitar komputer di salah satu toko komputer di daerah Kızılay. Mas Nasir yang tahu pertama kali tentang tulisan ini senangnya bukan kepalang, seperti mendapat rejeki nomplok. “Lihat...lihat, ada bahasa Indonesia,” katanya bahagia, walaupun bahasa Indonesia yang terpampang disitu sangat tidak indah.
            Di salah satu novelnya yang berjudul, ‘Bilangan Fu’, Ayu Utami menampilkan gambar gantungan asesoris evil eyes di cover bukunya. Sebelum mememukan majalah wanita itu aku tidak tahu kalau evil eyes menjadi salah satu ciri suvenir Turki. Begitu pula sebelum ke Konya dan menonton DVD whirling dervish-nya Rumi yang kubeli, aku tidak tahu hubungan antara evil eyes dan bilangan fu. Tapi sekarang agak nyambung. Setidaknya mungkin aku tahu mengapa Ayu Utami memasang evil eyes di sampul novelnya. Ternyata ada kaitan antara bilangan fu dan Rumi.

            Di Turki evil eyes ada dimana-mana. Ketika berada di toko-toko souvenir dekat museum Maulana Rumi di Konya banyak sekali evil eyes dalam berbagai bentuk: gantungan kunci, liontin, kalung, gelang, manik-manik, gantungan dinding, dan bentuk-bentuk lainnya. Sejak awal aku penasaran apa kisah dibalik evil eyes ini, mengapa begitu banyak evil eyes? Akhirnya melalui Yan, yang bersamaku ke Konya aku tanya pada salah satu penjual souvenir, seorang laki-laki usia empatpuluhan. Menurutnya evil eyes adalah warna mata bangsanya. Kulihat laki-laki ini memang bermata evil eyes. Tapi keterangan itu tidak cukup. Iya, evil eyes adalah warna mata, so what? Mengapa itu kemudian menjadi penting, sampai-sampai menjadi salah satu ikon Turki? Ini pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab oleh bapak itu. Aku membeli gantungan kunci evil eyes dan kristal bergambar dervish dari toko bapak ini. Kemudian ia membungkusnya. Dan, tebak! Kertas pembungkusnya bermotif evil eyes. Ketika ia memasukkan dalam kantong plastik, motifnya evil eyes lagi. Wualah.
            Aku kemudian beralih ke toko lain untuk membeli kartu pos. Dua laki-laki muda penjual kartu pos sedang bermain catur sambil makan kacang-kacangan. Ketika aku datang dan memilih-milih kartu pos aku disodori kacang yang ia makan. Aku mengambil dan mengunyahnya. tawar, dingin, dan tidak enak, tapi harus kutelan, dan tak lupa bilang “tesekkur ederim,” thank you. Melalui Yan aku bertanya lagi tentang evil eyes. Menurut mereka, evil eyes adalah ciri mata keturunan bangsa Seljuk, dan mereka bangga sekali dengan warna mata yang warna-warni itu. Oke, keterangannya lebih banyak, tapi aku masih belum puas. Ketika berjalan-jalan di Kurtulus Park dan minum teh dengan Adam, brondong Syria yang rajin SMS dan menelponku, lagi-lagi kutemukan evil eyes di nampan gelas. Hwalah, evil eyes is everywhere in Turkey..

o0o

            Di Ankara, setelah pulang dari belanja buku, Aku dan Mas Nasir sama-sama ke toilet di stasiun metro. Hari itu begitu dingin. Beberapa hari ini semua air yang ada dipermukaan tanah membeku termasuk comberan-comberan depan kampus, semua membentuk kristal saking dinginnya. Keluar dari toilet ada suara teguran dari belakang, “Hi, where are you from?” Aku menoleh, “Indonesia,” Kataku, sambil berbalik dan mendekati tiga orang young-men yang salah satunya menegurku. Ia kemudian berkomentar, “Beautiful country.”
“oh ya, tentu, kamu kok tahu? Tanyaku balik. Dibilang Indonesia is a beutiful country jelas telingaku tegak  “Well, some people here know about that," jawabnya. Setelah itu kami saling berkenalan. Tiga young-men itu bernama Emrah, Nuh dan Yos. Dari ketiga orang ini hanya Emrah yang bahasa Inggrisnya lumayan bagus. Dialah rupanya yang menegurku tadi. Emrah mahasiswa Teknik di universitas Yozgat, kota lain tidak jauh dari Ankara, Nuh kuliah di Istanbul, sedangkan Yos bekerja di Van, daerah lain di Turki yang berbatasan langsung dengan Iran. “Wah, kamu bisa bahasa Persia dong,” komentarku. Si Yos nyengir, “enggak, tuh”. Ketiga orang ini matanya warna-warni. Yos bermata kehijauan. Emrah bermata kecoklatan sedangkan Nuh kebiru-biruan.
            Setelah kupastikan mereka benar-benar Turkish kukatakan pada mereka kalau aku butuh ngobrol banyak dengan Turkish. “Banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang Turki pada orang Turki langsung.”
“Oke, aku akan menjawabnya walaupun mungkin tidak semuanya bisa aku jawab,” kata Emrah. Mas Nasir kemudian meminta email dan nomer HP mereka terutama Emrah, dan mencatat dibuku agenda yang kemarin Ia beli. Untung Mas Nasir membeli buku agenda yang ada peta Turkinya sehingga ketika tiga orang kenalan baru ini menyebut nama asalnya kita bisa langsung cek di peta, dibagian Turki mana mereka berada.
“Oke, Emrah” kataku kemudian, “Satu hal yang sekarang ini membuatku penasaran adalah evil eyes. Apa cerita dibalik evil eyes ini?” Emrah yang gondrong, berambut agak keemasan tampak bingung. Aku berusaha menjelaskan tentang benda satu ini yang bertebaran dimana-mana di Turki terutama menjadi ciri souvenir Turki. Kemudian Ia berdiskusi dengan dua orang temannya dan memastikan bahwa yang kumaksud adalah nazar bunjuğu. “Apa? Kalian menyebutnya apa di Turki?”
Nazar bunjuğu” katanya. Ia lalu berusaha menunjukkan pada kami benda yang dia maksud dengan memasuki salah satu toko yang dikira menjualnya, tapi ternyata tidak. “Oke, nazar bunjuğu”. Ia kuminta menuliskannya. Nazar bunjuğu, dengan g bercaping terbalik, yang di Turki dibaca g tak berbunyi seperti kata ghaib dalam bahasa Arab. Tapi rupanya Emrah dan dua orang temannya tak tahu kisah tentang nazar bunjuğu ini. Evil eyes adalah nazar bunjuğu dalam bahasa Turki.
            Setelah mengatakan goodbye dengan ketiga pemuda Turki ramah itu lalu kami berjalan keluar stasiun dan duduk di salah satu kursi taman pertokoan di Kızılay mencari wireless untuk men-google si mata setan alias nazar bunjuğu. Keterangan yang kudapat mejelaskan bahwa mata setan atau nazar bunjuğu dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat melindungi si pemakainya dari kekuatan jahat evil eyes, atau orang yang berniat jahat.
            Ketika berkunjung ke keduataan Indonesia di Turki, salah seorang staff kedutaan yang bersuamikan orang Turki menjelaskan bahwa orang-orang Turki masih percaya kalau Nazar bunjuğu mampu menangkal niat jahat orang-orang bermata setan. Di Turki baheula alias Turki jadul percaya bahwa orang bermata biru dengan iris hitam kalau mempunyai niat jahat akan langsung terlaksana, karena mata seperti itu mempunyai kekuatan yang dahsyat sehingga disebut evil eyes. Mungkin mirip-mirip folklore si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan yang ucapannya mampu mengubah orang menjadi batu. Di Turki, untuk menangkal kekuatan evil eyes ini mereka memasang evil eyes juga. Jadi kekuatan mata setan dilawan dengan mata setan juga, sebagai pemantul.
             Lalu apa kaitan antara mata setan dengan Ayu Utami dan Rumi? Pertama, tafsirkanlah sendiri sampul novel “Bilangan Fu” Ayu Utami. Di Novel itu Ayu bercerita sedikit tentang bunda semesta yang dilambangkan dengan garba atau yoni atau vagina. Jadi kalau dilihat ulang sampul novel itu bergambar vagina yang dilindungi mata setan. Ya, garba atau vagina memang perlu diberi mata setan atau evil eyes agar terlindung  dari maksud-maksud usil manusia pemilik tongkat ajaib berisi ubur-ubur renik, hahaha....! 
         Kedua, dalam novel ‘bilangan fu’ Ayu utamanya berkisah tentang misteri angka ke tiga belas yang ia sebut bilangan fu.  Fu adalah bilangan  yang menurutnya sudah melampaui sifat-sifat material alias spiritual. Fu di Jawa disebut “Hu” begitu ia bertutur dalam novel itu.

            Awalnya aku tak peduli dengan “Hu” tapi setelah ke Konya, melihat evil eyes dan menonton DVD tentang Rumi dan whirling dervish-nya aku kembali ingat pada “Hu” ini. Di akhir tarian darwisnya para darwis itu serentak membunyikan “Huuuuu” sambil menunduk ala Jepang ketika sang Syekh mengucapkan salam. Dibuku yang kubawa kutemukan sedikit penjelasan tentang “Hu”. Konon Hu adalah kata yang pertama kali terlontar dijagad raya. Dalam bahasa Arab “Hu” atau Huwa berarti “Dia” mengacu pada Allah yang biasanya diucapkan Allah Hu yang berarti Allah semata, tak ada yang lain sebagaimana ditegaskan dalam syahadat bahwa "Tak ada Tuhan kecuali Tuhan itu sendiri. Aku merasakan Hu sebagai Dia yang berada dibalik segala sesuatu.  Hu yang datang bersama angin. Hu yang berhembus disela-sela daun jendela. Hu yang menggoyang daun-daun pepohonan. Hu yang membawa layar menyeberang samudra. Hu yang menghempas ombak dan kelapa tumbuh di pantai. Hu adalah nafas semesta yang membuat Adam bernyawa. 
Maka jika Hu ini aku temukan di Jawa dan Turki itu bisa dimengerti. Karena Islam di keduanya sama-sama berakar kuat pada Sufisme atau tasawuf.

Thursday, December 13, 2012

#12. Rahasia Kepedihan Seruling Buluh


“Siapapun yang mengalami perpisahan menuggu penyatuan kembali” 
-Maulana Rumi-

            Di Konya aku membeli beberapa CD dan VCD tentang Maulana dan musik Sufi. Setelah dari Konya hasrat jalan-jalanku sedikit mereda sehingga hari itu aku memilih tinggal di kamar dan mendengarkan musik Sufi yang sudah kubeli. Musik sufi artinya suara ney. Di Turki ney-lah yang membuat musik menjadi musik sufi. Kalau sudah mendengarkan suara ney mengalun aku tidak bisa lagi melanjutkan menulis karena terserap oleh suara kepedihan ney sehingga aku memilih diam dan menyesapinya. 

            Ney adalah alat musik yang terbuat dari buluh. Suaranya menusuk jauh sampai ke kedalaman hati hingga terasa pedih. Jadi bisa dimengerti kalau Maulana Rumi menggunakannya untuk mengiringi tarian spiritualnya. Ia menyuarakan kepedihan rindu para pencinta pada objek cintanya, yang tak lain adalah asal-usul dirinya. Ney mampu menyuarakan kerinduan Maulana pada kekasih sejatinya yang tak lain adalah Allah sendiri.
            Di Indonesia ney kita sebut seruling dan lebih banyak dipakai untuk mengiringi musik dangdut. Karena dibunyikan untuk kepentingan yang berbeda kita tidak merasakan nuansa spiritualnya. Tapi seruling Sunda setidaknya mampu mambuat kita merasakan keagungan pencipta semesta lewat gambaran alam pedesaan yang ditimbulkannya. Maka jika di Turki suara ney berasosiasi dengan kepedihan rindu para pencinta, di Sunda suara seruling berasosiasi dengan keindahan alam pedesaan yang damai dan tentram.
            Ney menjadi simbol spiritual karena ia mampu menampung filososfi perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan dan mewakili kerinduan manusia kepada Tuhan. Dalam pandangan para Sufi esensi manusia berasal dari Ruh Tuhan. Ketika Tuhan memutuskan untuk menciptakan Adam Ia meniupkan Ruh-Nya sendiri kedalam diri Adam.  Sehingga kerinduan yang dirasakan oleh manusia pada Tuhan pada dasarnya adalah kerinduan untuk kembali menyatu pada asal-usulnya yaitu Tuhan.
            Seperti halnya ney yang harus dipotong dari buluh induknya lalu dijemur, dibakar dan kemudian dilubangi, manusia pun juga mengalami kepedihan yang sama dalam hidupnya. Manusia terpisah dari Tuhan lalu mengalami berbagai terpaan hidup sebelum akhirnya menjadi pribadi yang matang.

            Bagi Maulana, Ney menyimbolkan manusia sempurna yang telah mencapai kematangan spiritual melalui berbagai tahapan proses dalam kehidupannya. Seperti halnya ney yang hanya bisa berbunyi jika kita tiupkan nafas kita padanya, begitu pula manusia yang hanya bisa hidup jika nafas Tuhan ditiupkan dalam dirinya. Karena ney mampu mewakili kepedihan rindunya, maka Maulana diawal-awal kitab Mathnawi-nya, secara khusus bercerita tentang ney ini.
           

Dengarlah! Bagaimana Ney ini bisa mengeluhkan dan mengisahkan keterpisahan?
Perempuan maupun laki-laki menangis dan merintih karena mereka telah memotongku dari batang.
Aku hanya menginginkan hati yang tercabik karenai duka perpisahan, sehingga aku bisa menuturkan penderitaanku.
Siapapun yang mengalami perpisahan menuggu penyatuan kembali
Aku sudah berteriak dan mengerang pada orang-orang,
aku telah menjadi sahabat karib orang baik maupun jahat.
Semua orang sudah menjadi sahabatku.
Tapi tak satupun yang mencari tahu rahasiaku.
Rahasiaku tak lain adalah tangisanku,
tapi tak semua mata dan telinga mempunyai cahaya Tuhan.

Tubuh dan Ruh tidak saling bersembunyi,
tapi Ruh tak terlihat pada setiap orang.

Suara ney ini adalah api, bukan udara.
Dimana tak ada api, biarlah ia lenyap.

Api dari cintalah yang memasuki ney;
antusiasme cintalah yang membuat minuman jadi berbusa.
Ney adalah teman dan pendamping orang yang terpisah dari kekasihnya.
Nada ney telah merobek semua nada.
Siapa selain ney yang melihat racun dan penawarnya sekaligus?
Ney bercerita tentang jalan yang dipenuhi darah dan kisah cinta Majnun.
Ia adalah akal, ia adalah rahasia kearifan;
lidah tak punya lagi klien kecuali telinga.

Hari-hari menjadi lebih panjang dan semakin panjang karena duka kita.
Hari-hari berpasangan dengan pembakaran.
Biarkan hari berlalu; apalah artinya duka dan derita!
Oh, cinta tanpa kawan, hanya kau yang tinggal disini.
Kecuali bagi ikan, segalanya puas dengan air;
bahkan hari-hari orang yang tak punya makanan semakin panjang.
Bagaimana orang yang masih mentah memahami tingkat kematangan ini.
Sekian dulu untuk saat ini.        
Disini aku harus berhenti, di titik ini.
           
            Begitulah Maulana mengapresiasi Ney yang mampu mewakili kepedihan rindunya pada sang Kekasih.  Ney pun menjadi musik spiritual di Turki, musik para Sufi. Bagaimana dengan Indonesia?  
            Di Indonesia khususnya di Jawa kita juga punya musik spiritual yang sering dilupakan orang. Musik spiritual itu bernama gamelan. Inilah musik yang dulu kuanggap sangat tidak menarik dan membosankan tetapi kemudian terdengar begitu indah dan mencerahkan. Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukai gamelan tapi beberapa tahun belakangan ini aku selalu terpukau pada suara gamelan, siapapun yang memainkan. Suara gamelan tidak hanya menghibur telinga tetapi juga mampu membawa pada kesadaran yang lebih tinggi.
            Berbeda dengan ney yang suaranya memusat di dada, suara gamelan menyebar keseluruh tubuh bahkan keluar tubuh. Ketika gong dibunyikan ia seolah-olah membangunkan alam semesta termasuk kita di dalamnya. Gamelan pun memuat filosofi yang sangat luas dan dalam. Jika ney merepresentasikan kerinduan pada Tuhan maka Gamelan menyimbolkan kedamaian dan keharmonisan alam semesta. Jika Ney bisa dimainkan sendirian tidak halnya dengan gamelan, Ia harus dimainkan berombongan karena menyimbolkan haromoni dalam keragaman. Maka gamelan pun merepresentasikan dengan baik falsafah negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu yaitu Indonesia. Falsafah ini kalau ditarik lebih dalam menggambarkan keberagaman isi alam semesta yang sesungguhnya merupakan manifestasi dari yang Maha Tunggal. Jika ney merepresentasikan kerinduan dan pencarian maka gamelan merepresentasikan pengejawantahan.
            Jika para sunan menggunakan gamelan dalam proses penyebaran Islam di tanah Jawa, menurutku karena mereka paham betul apa yang direpresentasikan oleh gamelan ini. Gamelan bukan sekedar alat musik yang dibuat untuk memroduksi bunyi tapi juga punya pengaruh dahsyat pada jiwa dan raga manusia. Gamelan pastilah tidak dibuat sembarangan. Ia dibuat dengan kesadaran dan pengetahuan yang dalam tentang alam semesta, manusia, dan Tuhan.
            Menurut Pak Kuntowijoyo, melodi dalam musik gamelan disesuaikan dengan konsep waktu siklus dalam sistem pengetahuan Jawa yang disebut asta-wara, yaitu suatu lingkaran bilangan yang selalu kembali pada hitungan ke delapan. Artinya gamelan tidak sekedar alat musik tetapi representasi  dari sebuah pengetahuan yang dalam tentang waktu, yang pada intinya adalah pengetahuan tentang Sang Hyang Tunggal, Pemilik Jagad Semesta, entah dengan nama apapun Dia disebut, atau dengan cara apapun Dia disembah.
            Menurut Pak Kunto lagi, hingga saat ini mungkin hanya gamelan sekaten yang masih mampu melestarikan fungsi spiritual gamelan. Manurutnya, melodi, ritme, harmoni dan, dinamik gamelan sekaten adalah representasi perjalanan suci menuju Tuhan, sehingga Ia pun berkesimpulan bahwa gamelan sekaten adalah sintesa yang berhasil antara agama dan seni. 
            Aku melihat ney sebagai representasi spiritualitas maskulin sedangkan gamelan mewakili spiritualitas feminin, tanpa bermaksud mendikotomi. Ini bisa dilihat dari bentuk dan bagaimana Ia dimainkan. Ney berbentuk tongkat sehingga bisa disamakan dengan lingga sedangkan gamelan? Gamelan terutama gong berbentuk yoni terbalik, sehingga lebih mirip buah dada perempuan, -yang menurut salah seorang sufi perempuan yang kutemui merupakan lorong waktu. Untuk saat ini aku tak paham apa maksudnya.  
            Ney bisa dimainkan sendirian sebagaimana para salik atau pencari yang menyendiri mencari Tuhan. Sedangkan gamelan merupakan sebuah orkestra yang terdiri berbagai alat musik, seperti kenong, kempul, gong, bonang barung, saron dan lain-lainnya, karena ia membawa pesan harmoni dalam keragaman.
            Di degung Sunda gamelan dan ney dipertemukan sehingga mampu merepresentasikan kedua fungsi ini, pencarian dan pengejawantahan. Representasi spiritual ney dan gamelan membuatku ingat pada peristiwa mi’raj Nabi Muhammad. Ketika masih dalam proses pencarian Nabi Muhammad banyak menyendiri dan berkontemplasi. Namun setelah peristiwa mi’raj dan mencapai Tuhan Ia memilih untuk kembali ke Bumi  dan menjadi bagian dari masyarakat. Ia kembali untuk mengabarkan kabar gembira dari hasil perjalanannya. Karena kasih sayang pada umatnya Ia memilih kembali daripada bersanding bersama Tuhan. Itulah mengapa ia layak menyandang gelar Rahmatan lilalamin, rahmat bagi seluruh alam. Ia kembali untuk mengejawantahkan kesempurnaan sifat-sifat Tuhan dan menyempurnakan perjalanan pulang menuju Tuhan. Inilah barangkali mengapa Sunan Kalijaga membunyikan gamelan di acara sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Seolah Ia ingin membangunkan jagad raya untuk menyambut kedatangan rahmat bagi semesta alam ini. Melalui gamelan Ia seolah berpesan, "Marilah kembali kepada Tuhan bersama-sama, walaupun kita tampak berbeda rupa dan suara tapi sesungguhnya  kita satu, sesama makhluk Tuhan." Bhinneka Tunggal Ika, bukan kebetulan menjadi semboyan bangsa kita.