Semazen

Monday, December 3, 2012

#1: Predeparture Menuju Cinta


Aku tidak pernah bermimpi untuk ke Turki apalagi ke kota bernama Konya. Negeri Anatolia ini bagiku masih negeri dibalik kabut yang tak banyak kutahu daya tariknya sehingga tidak masuk daftar yang harus disambangi. Jerman, Jepang dan Perancis bagiku lebih menarik karena aku tahu sedikit bahasanya dan tentu juga budayanya.  Tapi Turki, apa yang menarik dari Turki? Itulah pertanyaan konyol yang kuajukan pada banyak orang dan diri sendiri agar antusias tinggal lima minggu di Turki. Berbagai jawabanpun diberikan. Banyak bertebaran orang ganteng, Ayasofia yang cantik tapi penuh konflik, jembatan Bosporus yang menawan penghubung dua benua. “Kamu bisa makan siang di Asia dan makan malam di Eropa” begitu kata salah satu teman yang ingin sekali ke Turki. Ada Istana Topkapi yang menawan, kata teman yang lain. Dan terkahir RUMI. “Ke Turki kalau tidak ke Konya, ke makam Rumi, sama juga bohong,” kata dosenku yang pecinta Rumi tapi belum ke Turki. Aku tetap tak tergugah. Walaupun nama Rumi sudah disebut namun masih terasa hambar. Ya, aku penyuka puisi-puisi Rumi, lalu? Aku butuh alasan lebih agar perjalananku lebih berarti. Itu mauku. Kalau hanya ke Turki, melihat tempat-tempat menarik dan berkunjung ke Makam Rumi, bagiku belum menarik. Paling-paling kesannya hanya sesaat. Aku ingin kesan sepanjang hayat. Itulah yang kumau.
            Seminggu sebelum berangkat akhirnya kutemukan alasan yang lebih menarik itu.  Petualangan Ruhani. Inilah alasan yang menurutku lebih sip. Alasan ini kutemukan setelah seorang teman meminjamkan buku catatan petualangan ruhani mantan penyayi pop Inggris yang kemudian menjadi Sufi setelah bertualang di Turki, Reshad Field. Catatan petualangannyalah yang membuatku ingat kembali pada apa yang selama ini aku cari, pemahaman tentang cinta. 

Walaupun Rumi mengatakan cinta tak akan pernah bisa dipahami namun siapa yang tidak dibuat penasaran oleh cinta. 

Lukisan dinding di museum Rumi, Konya, Turki.
Aku termasuk idiot untuk urusan yang satu ini. Maka jika akhirnya aku harus ke Turki tepatnya ke Konya kurasa karena aku perlu belajar pada sang Master Cinta, Maulana Jalaluddin Rumi, agar tak idiot-idiot amat. Maka Maulana menjadi satu-satunya magnet yang menarik hatiku ke Turki. Sehingga kunamai saja perjalanan ke Turki ini petualangan hati karena niat utamanya adalah menemui Maulana Jalaluddin Rumi.  Itu saja. 
            Sejak saat itu hari-hariku pun dipenuhi oleh ingatan pada Maulana Rumi (dalam bahasa Arab Maulana berarti 'guru kami', dan orang Turki cukup menyebut Mevlana). Di lampu merah yang terik aku ingat Maulana. Di jalan jelek dan becek penuh polisi tidur aku ingat Maulana. Di pinggir jalan di tukang tambal ban aku ingat Maulana. Bahkan di mall ketika mencoba sepatu aku ingat Maulana. Pokoknya aku jadi sering ingat Maulana. Tapi anehnya setiap kali ingat Maulana selalu saja air mata ingin tumpah tanpa alasan yang bisa dimengerti. Hanya rasa pedih.
            Aku sudah lama kenal Jalaluddin Rumi. Sejak mulai hobi membeli buku-buku serius. Buku pertama yang kubeli berjudul, “Meine Seele ist Eine Frau,” atau versi Indonesianya, “Jiwaku adalah wanita.” Dari buku inilah aku pertamakali kenal Maulana. Buku ini di tulis oleh seorang perempuan Jerman pecinta Maulana Rumi, Annemarie Schimmel. Tulisan penuh cinta inilah yang mempunyai daya tular luar biasa, sehingga aku ikut pula menjadi pecinta Maulana. Cinta membangkitkan cinta rupanya.
            Aku menyukai  Maulana karena jiwanya yang feminin: terbuka, lembut dan tidak diskriminatif. Maka wajar jika cinta betah bersemayam dihatinya. Artikulasi feminin yang terjalin dalam kata-kata puitisnya telah membangkitkan jiwa femininku yang lama tertimbun karena perlawanan pada dunia yang tak ramah. Karena  Maulana jiwa femininku merasa mempunyai teman. Ia menjadi juru bicara yang baik bagi jiwa-jiwa feminin. Jiwa-jiwa yang tak melulu didikte akal karena telah melampaui akal. Ingat, akal tak akan pernah mampu memahami cinta, tapi jiwa feminin mampu menjadi ahlinya. Maulana Rumi adalah salah satunya.           
            Maulana tidak hanya membangunkan kesadaran spiritualku, Ia telah menginspirasi dunia melalui rangkaian kata-kata indah penuh makna dan tarian berputarnya. Melalui jalan cinta Ia mengajak orang untuk menggapai esensi kehidupan dan tujuan keberadaan. Melalui cinta ia mengajak pada cinta. Jalan ini ternyata banyak diminati orang karena tak membeda-bedakan status sosial, jenis kelamin, ras, dan agama  manusia. Sehingga PBB menganggap Maulana dianggap sebagai promotor toleransi, perdamaian dan cinta. Ia memberikan alasan  paling esensial mengapa kita perlu saling mencinta. Ia juga menyediakan argumen paling dalam mengapa manusia punya cinta. Kata Rumi pun berasosiasi dengan Cinta. Maka pada ulang tahunnya yang ke-800  yang jatuh pada tahun 2007, UNESCO, badan PBB yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan menetapkannya sebagai tahun Rumi.  
***
            Alasan lain mengapa aku mengutamakan Rumi, karena aku merasa waktu lima minggu terlalu singkat untuk mendapatkan pengetahuan melalui metode konvensional apalagi ada kendala bahasa dan uang saku. Maka aku memutuskan untuk membidik langsung pada jantung pengetahuan itu sendiri melalui Maulana Jalaluddin Rumi. Selain Maulana ternyata, di Konya juga ada dua guru besar lain yaitu Syams Tabris, gurunya Maulana Rumi dan Sadruddin al Qunowi, sahabat dekat Maulana dan anak angkat serta penerjemah utama karya-karya Ibn Arabi, seorang guru besar yang telah membantuku menalar hal-hal pelik berkaitan dengan segala macam perbedaan, termasuk agama, dan misteri dibalik segala yang tampak dan terucapkan.
         Dalam tradisi Sufi, kedua orang ini, Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi dikenal sebagai kutub cinta dan kutub pengetahuan. Dari sini pula aku berharap suatu saat bisa ke Damascus, Syiria, mengunjungi sang guru besar, Ibn Arabi, sehingga dua kutub itu bisa kudatangi. Inilah eksperimen awalku dengan metode Sufi setelah dibuat lelah oleh metode konseptual yang kadang terasa begitu lambat dan garing.  
*** 
            Jalan ke Turki ternyata tidak semulus dugaan, mulai dari lamanya invitation letter dari universitas Ankara, anjloknya nilai tukar rupiah akibat krisis global yang membuat bekal finansial ke Turki makin ngepres sehingga tak berani berangan macam-macam, hingga ruwetnya urusan visa. Sehingga rencana berangkat September baru terealisasi Desember. Namun dari berbagai peristiwa tidak asik ini akhirnya aku memilih untuk percaya bahwa tidak ada peristiwa yang kebetulan malainkan sudah menjadi bagian skenario untuk tujuan tertentu. Maka jika akhirnya aku berangkat Desember, itupun bukan kebetulan.
            Sebelumnya tak terpikir jika peringatan kematian Maulana Rumi jatuh pada bulan Desember. Awal tahun 2008 ketika aku terlibat acara nonton film dan diskusi tentang Jalaluddin Rumi untuk memperingati 800 tahun keberadaanya, aku dan teman-teman menempatkannya di bulan Februari tepatnya di hari valentin. Kami menamai acara itu, “Merayakan cinta bersama Rumi. Maka jika beberapa bulan kemudian aku bisa ke Konya menurutku bukan kebetulan. Rumi mengundangku untuk merayakan cinta bersamanya, di hari bahagianya. 
            Untuk petualangan ini aku hanya berbekal dua hal, pertama, buku Reshad Feild yang berjudul  “The last barrier: A journey into the essence of Sufi Teaching,” yang menjadi guiding bookku untuk melakukan petualangan ruhani di negeri para Darwis ini. Kedua, pesan tidak langsung dari Pak Muh. Zuhri, seorang Sufi dari Pati, Jawa Tengah, yang juga membatuku menalar makna-makna dibalik semesta struktur. Pesan ini sampai tiga jam sebelum berangkat melalui seorang sahabat. Pak Muh bilang, “Inti Islam adalah Sabar dan Syukur.” 


2 comments:

bukusenja.wordpress.com said...

beberapa waktu yg lalu baca novel 'kimya; putri rumi'. apakah benar tokoh kimya?

kalimatnya lugas, bertenaga =)

Surga Kecil said...

Thanks, komennya. Iya, tokoh Kimya memang ada, dia putri angkatnya Rumi yang dinikahkan dengan Syams Tabris, dan menimbulkan kecemburuan di hati anak kedua Rumi yang juga mencintai Kimya, yang berujung pada pembunuhan terhadap Syams. Begitu :). Salam, -njm-