Semazen

Tuesday, January 8, 2013

# 21. Sufi Master


“Tuhanlah yang membuat kita mencintai Tuhan”
-Sufi Master-

            Dua jam setelah bis berangkat seorang perempuan bernama Ridade menelpon, bertanya aku sudah sampai dimana dan turun di terminal mana? Rupanya Thomas, penyair Australia yang kutemui di makam Maulana Rumi tanggal 17 Desember lalu benar-benar menyampaikan keinginanku bertemu seorang Sufi. Melalui Thomas-lah aku bertemu malaikat-malaikat Istanbul dan Sufi Master. Kusebut Thomas dan Ridade malaikat ke lima belas dan enam belas. Mereka berdua adalah calon dervish dari tarekat Rifa’i.
            Tiba di Gaziosmanpasa dua orang perempuan muda Turki sudah menungguku. Mereka melabaikan tangan diseberang jalan yang salah satunya adalah Ridade mahasiswa S3, sedangkan satunya lagi adalah Selin. Mereka berdua adalah calon anggota tarekat Rifa'i yang masih menjalani tahap test sebelum di bai'at (disumpah) menjadi anggota tarekat. Mereka kemudian membawaku ke sebuah gedung yang awalnya aku kira tempat tinggal mereka tapi ternyata rumah sang Sufi Master, guru pembimbing ruhani mereka. 

            Kami menaiki beberapa lantai hingga paling atas, lalu melepas sepatu, menggantung jaket dan syal. Ridade bertanya apakah aku membawa kerudung. “Aku sudah mempersiapkannya,” kataku sambil mengeluarkan kerudung batik yang sudah kusiapkan. Lalu kami naik ke sebuah ruangan beratap rendah, ruang paling atas bangunan. Disitu sudah berkumpul banyak orang. Di dapur yang sangat sempit dua orang laki-laki setengah baya sibuk menyiapkan piring dan makanan. Aku dibawa ke ruangan sebelah kanan dekat dapur, ke tempat sang Sufi Master dan Ibunya berada. Mereka menyambutku dengan hangat. Aku mencium tangan dan kedua pipi Ibu sang Master dan duduk disebelahnya. Aku tidak tahu bagaimana harus menyalami sang Master sehingga aku memilih mengangguk dan tersenyum kepadanya. Ridade lalu memperkenalkan aku sekaligus menjadi penerjemah. Malam itu tidak hanya aku yang menjadi tamu asing di dalam ruangan itu. Ada seorang perempuan dari Jerman bernama Ayla yang lebih dulu tiba.
            Setelah bertanya kabar dan bagaimana perjalanan dari Ankara sang Master bertanya tentang tarekat di Indonesia. Berdasarkan bacaan aku jelaskan bahwa di Indonesia banyak sekali tarekat atau Sufi Order, mulai dari Naqsabandiyah, Qadiriyah, Chistiyah, Tijaniyyah, dan Rifaiyyah bahkan Maulawi juga ada. Tapi tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah paling besar di Indonesia. Ia mengangguk-angguk. Lalu menjelaskan sesuatu pada murid-muridnya. Tak lama kemudian Ia menyuruhku ke ruangan sebelah untuk bergabung dengan yang lainnya.
            Diruangan sebelah yang tak begitu besar dan juga beratap rendah ini telah berkumpul sekitar dua puluh orang laki-laki dan perempuan dengan wajah yang berbeda-beda. Aku satu-satunya yang berwajah Asia Melayu. Selebihnya adalah wajah-wajah berhidung tinggi. Selain anggota tarekat Rifa’i sendiri yang berasal dari Turki, ada juga tamu dari Jerman, London, dan Australia.
            Dinding ruangan dipenuhi oleh kaligrafi dan foto-foto berbingkai. Kaligrafi-kaligrafi itu mungkin karya sang Master sendiri yang memang jago membuat kaligrafi selain bermain musik dan mencipta lagu. Sebagian besar laki-laki dalam ruangan ini memegang alat musik. Seorang laki-laki agak tua memegang sejenis kecapi; satu orang memegang ney; dua orang memegang rebana dan beberapa yang lain memegang alat yang tidak aku tahu namanya. Ia dibunyikan dengan cara dihentakkan kelantai. Alat ini mengeluarkan bunyi berisik yang menggugah semangat tempur.  Mereka lalu memainkan lagu yang bernada mars. Sang Master juga bernyayi. Aku hanya menangkap kata Allahu akbar yang diucapkan Allahu ekber, selebihnya bahasa Turki. Tiba-tiba seseorang menyapaku, “Hi Naj,” yang setelah kutoleh ternyata Thomas sang penyair Australia yang duduk berjarak satu orang laki-laki disebelahku. Ia memegang alat musik berisik itu sementara laki-laki disebelahku memegang kamus Turki-Jerman.
            Aku bertanya apakah aku boleh memotret. Selin lalu keluar untuk bertanya pada Master. Tak lama kemudian Ia kembali lagi dengan, “yes, you can make photo.” Agar tak mengganggu konsentrasi aku tak menggunakan flash. Ketika Ney dan kecapi dimainkan aku memilih untuk berkonsentrasi dan betul-betul mendengarkannya. Mereka memainkan musik dan menyanyikan lagu puji-pujian dengan khusuk. Ketika seorang laki-laki agak tua bernyanyi dengan vocal penuh Selin menjelaskan bahwa Ia seorang penyanyi yang cukup terkenal di Turki dan Ibunya seorang artis terkenal pula. Laki-laki itu terlihat benar-benar terserap oleh lagu yang dinyanyikannya. Matanya merem melek.
            Setelah sesi musik dan nyanyi usai, aku diminta untuk masuk kembali ke ruangan Master. Ia duduk di Kursinya sementara aku duduk lesehan didepannya. Seorang laki-laki setengah baya memberiku segelas teh dan dua potong kue yang manisnya minta ampun dalam piring kecil. Master lalu bertanya tentang namaku. Setelah kujawab ia lalu menjelaskan tentang arti namaku pada orang-orang yang ada di situ dalam bahasa Turki. Kali ini penerjemahku bernama Yildiz. Setelah itu Ia bertanya tentang nama gunung di Jawa yang beberapa waktu lalu meletus. Rupanya gunung Merapi membuat Jawa dan Yogyakarta cukup dikenal di Turki apalagi setelah disusul Gempa Jogja.
            Master berkulit putih, hidung lancip, bermata biru dan berbibir tipis dengan kumis agak-agak pirang. Ia terbilang tampan. Wajahnya setipe wajah Ataturk, tipikal wajah Istanbul yang mungkin dominan gen Eropanya. Ketika kutanya umurnya Ia menjawab dengan jawaban yang tidak biasa. Ia bilang  secara lahir dan spiritual ia berumur 43 tahun. Aku bertanya lagi apa yang ia maksud umur secara lahir dan spiritual. Ia menjelaskan bahwa umur jasmani dan ruhaninya sama, yaitu 43 tahun. Karena wajahku masih mengernyit penuh tanda tanya sang Ibu memberi isyarat keperutnya. “Oh, itu berarti proses spiritual anda sudah dimulai sejak dalam kandungan?” tanyaku. Master membenarkan. Ia bilang ibunya selalu berzikir “lailahailallah lailahailallah” ketika hamil dirinya.
“Oh, pantas kalau anda mempunyai kualitas seperti itu,” komentarku sok tahu. 
Aku bertanya lagi, “Apakah anda memang keturunan Sufi?” Ia bilang Ayahnya seorang Dervish begitu pula ibunya. Lalu ia balik bertanya, “Apakah kamu seorang Sufi?” Aku tertawa, “Saya tidak tahu.”
“Kamu Sufi,” katanya menuduh, entah main-main atau serius, aku tidak tahu.
“Iya, Sufi alias suka film,” jawabku dalam hati. 
“Di Turki Sufi disebut Dervish, bagaimana dengan di Indonesia?” tanyanya. Aku bingung, kuberikan saja jawaban yang kuberikan kepada Prof. Sebahattien, Profesor pertanian yang sempat juga berdiskusi tentang Sufi denganku di Fakultas Pertanian, Universitas Ankara. Aku bilang masyarakat lokal mungkin mengenalnya sebagai wali atau sunan karena kata Sufi hanya umum di buku-buku. Ia menjelaskan bahwa Sufi atau dervish berbeda dengan wali. Ia kemudian menunjuk pintu. Menurutnya dervish atau Sufi masih diambang pintu. Sedangkan wali sudah didalam pintu. Dervish dalam bahasa Turki memang berarti ambang pintu. 

Melihat makanan dan minumanku masih banyak, Master bertanya, "kenapa tidak dimakan kuenya?"
"Karena saya tidak ingin kehilangan sediktipun dari kata-kata anda," jawabku. 
"orang akan mendengar apa yang patut ia dengar," katanya. Aku mengiyakan saja.
            Lalu kujelaskan defenisiku tentang Sufi yang sangat sederhana yaitu pecinta Tuhan. Master kemudian mengatakan bahwa tidak hanya pecinta Tuhan, seorang Sufi adalah orang yang juga dicintai Tuhan. Karena Tuhanlah yang memilihnya dan menempatkan cinta itu dalam dirinya.

            Kata-katanya mengingatkan aku pada Umi, seorang Sufi perempuan yang pernah kuwawancarai yang diam-diam kemudian kuanggap guru. Ia mengatakan bahwa seorang hamba Allah tidak hanya klaim sepihak bahwa ia adalah hamba Allah hingga Allah sendiri mengakui bahwa ia adalah hamba-Nya. Ia menjelaskan bahwa pada saatnya nanti ketika kita sudah berproses dalam peleburan wujud dengan Tuhan, maka Allah sendiri yang akan mengatakan, “Pada saat ini Kuakui ke-Hambaan-mu, Kuakui ke-Akuanmu, Kuakui ke-Engkauanmu, Kuakui ke-Diaan-mu, dan Kuakui ke-Kamianmu.” Kata-kata Umi inilah yang membuatku mudah mencerna penjelasan Sufi Master tarekat Rifa'i ini. 
    Orang-orang satu persatu mulai berpamitan sehingga conversation itu terhenti. Laki-laki dan perempuan mencium tangan Master dengan bibirnya lalu meletakkan tangan itu di dahinya, lalu berjalan mundur hingga mencapai pintu sehingga tidak tampak berjalan membelakangi Master. Ketika aku juga harus pulang aku mencium tangannya dengan kikuk.  Ketika aku berpamitan pada sang Ibu, Ia mencium pipi kanan dan kiriku sambil membacakan Sholawat. Malam itu aku menginap di rumah Yildiz, tangan kanan sang Master yang menjadi malaikat ke delapan belasku. Yildiz seorang perempuan tinggi, cantik, bermata biru, dan berambut pirang, umur 34 tahun. Karena ia belum menikah maka aku dan tamu lain dari Jerman bernama Ayla, bisa leluasa di apartmennya. 

1 comment:

Mas Joko said...

... bahwa seorang hamba Allah tidak hanya klaim sepihak bahwa ia adalah hamba Allah hingga Allah sendiri mengakui bahwa ia adalah hamba-Nya.